Penulis: Budiman, S.Pd.I,MM.Pd
Kepala MIN 2 Palembang
Pendahuluan
Pada dasarnya sistem pendidikan
Islam didasarkan pada sebuah kesadaran bahwa setiap Muslim wajib menuntut ilmu
dan tidak boleh mengabaikannya. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi
yang yang menganjurkan umat manusia untuk menuntut ilmu serta menggambarkan
orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya motivasi seorang Muslim untuk mencari
ilmu adalah dorongan ruhiyah, bukan untuk mengejar faktor duniawi semata.
Seorang Muslim yang giat belajar karena terdorong oleh keimanannya, bahwa Allah
Swt sangat cinta dan memuliakan orang-orang yang mencari ilmu dan berilmu di
dunia dan di akhirat.
Betapa pentingnya pendidikan, karena
hanya dengan proses pendidikanlah manusia dapat mempertahankan eksistensinya
sebagai manusia yang mulia, melalui pemberdayaan potensi dasar dan karunia yang
telah diberikan Allah. Apabila semua itu dilupakan dengan mengabaikan
pendidikan, manusia akan kehilangan jatidirinya. Dengan pendidikan, orang akan
memiliki ilmu yang akan di gunakan sebagai pegangan dalam mencapai kebahagian
di dunia dan akhirat. Tentunya ilmu yang baik dan bermanmanfaat untuk pribadi
dan masyarakat. Untuk mendapatkan pendidikan dan ilmu di lakukan melalui
konsep-konsep pembelajaran yang yang baik.
Dalam Islam, pentingnya pendidikan tidak semata-mata mementingkan individu,
melainkan erat kaitannya dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Konsep
belajar/pendidikan dalam Islam berkaitan erat dengan lingkungan dan kepentingan
umat. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan senantiasa dikorelasikan dengan
kebutuhan lingkungan, dan lingkungan dijadikan sebagai sumber belajar. Seorang
peserta didik yang diberi kesempatan untuk belajar yang berwawasan lingkungan
akan menumbuhkembangkan potensi manusia sebagai pemimpin.
Pembahasan
A. Pengertian Konsep Belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
selain memiliki rancangan, konsep juga bermakna ide atau pengertian yang di
abtraksikan dari peristiwa-peristiwa konkrit atau gambaran mental dan obyek
proses ataupun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi memahami
hal-hal lain.
Kata konsep dari bahasa inggris
(concept), yang berarti bagan, rencana, gagasan, pandangan, cita-cita (yang
telah ada dalam fikiran). Sedangkan menurut Ibrahim Madkur, kata konsep
(Inggris: concept) dipadankan dengan istilah makna kulli (Arab), yang artinya
pikiran (gagasan) yang bersifat umum, yang dapat menerima generalisasi.
Sedangkan dengan makna-makna tersebut, maka konsep yang dimaksudkan dalam
pengertian ini, ialah sejumlah gagasan, ide-ide, pemikiran, pandangan ataupun
teori-teori yang dalam konteks ini dimaksudkan ialah ide-ide, gagasan,
pemikiran tentang belajar sepanjang hayat.
Adapun belajar itu sendiri dapat
didefinisikan antara lain:
Hilgard mengatakan : Learning is the
proses by which an activity originates as changed through training procedures
(whether in the laboratory or in the natural environment). Belajar adalah
proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan
(apakah dalam laboratorium atau dalam Iingkungan alamiah).
Morgan, belajar adalah setiap
perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu
hasil dari latihan atau pengalaman.
James P. Chaplin, learning (hal
belajar, pengetahuan), yang berarti perolehan dari sembarang perubahan yang relative permanent dalam tingkah laku sebagai hasil
praktek atualisai pengalaman. Dari beberapa pengertian belajar tersebut, Sumadi
Suryabrata menyimpulkan:
a. Bahwa belajar itu membawa perubahan
(dalam anti behavioral changed, aktual maupun potensial.
b. Bahwa perubahan itu ada pokoknya
adalah didapatkannya kecakapan baru.
c. Bahwa perubahan itu terjadi karena
usaha (dengan sengaja).
Dikatakan belajar apabila membawa
suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai
jumlah pengetahuan, melainkan juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap,
pengertian, penghargaan, minat, penyesuaian diri. Pendeknya mengenai segala
aspek organisme atau pribadi seseorang. Karena itu seorang yang belajar ia
tidak sama lagi dengan saat sebelumnya, karena ia lebih sanggup menghadapi
kesulitan memecahkan masalah atau menyesuaikan diri dengan keadaan.
Ia tidak
hanya bertambah pengetahuannya, akan tetapi dapat pula menerapkannya secara
fungsional dalam situasi hidupnya. Jadi berdasarkan uraian diatas
tentang konsep dan belar dapat kitasimpulkan konsep belajar adalah Gagasan atau
rancangan tentang agarbagaimana belajar dapat berjalan sesuai dengan konsep
agar belajar dapat berjalan secara baik.
B. Konsep belajar Sepanjang Hayat
Dalam dalil belajar islam disebutkan
“carilah ilmu dari buaian hingga liang lahat” Belajar sepanjang hayat adalah
suatu konsep, suatu ide, gagasan pokok islam dalam konsep ini ialah bahwa
belajar itu tidak hanya berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan formal
seseorang masih dapat memperoleh pengetahuan kalau ia mau, setelah ia selesai
mengikuti pendidikan di suatu lembaga pendidikan formal. Ditekankan pula bahwa
belajar dalam arti sebenarnya adalah sesuatu yang berlangsung sepanjang
kehidupan seseorang. Bedasarkan idea tersebut konsep belajar sepanjang hayat
sering pula dikatakan sebagai belajan berkesinambungan (continuing learning).
Dengan terus menerus belajar, seseorang tidak akan ketinggalan zaman dan dapat
memperbaharui pengetahuannya, terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut.
Dengan pengetahuan yang selalu diperbaharui ini, mereka tidak akan terasing
dari generasi muda, mereka tidak akan menjadi snile atau pikun secara dini, dan
tetap dapat memberikan sumbangannya bagi kehidupan di lingkungannya
Belajar sepanjang hayat adalah suatu
konsep tentang belajar terus menerus dan berkesinambungan (continuing-learning)
dari buaian sampai akhir hayat, sejalan dengan fasefase perkembangan pada
manusia. Oleh karena setiap fase perkembangan pada masing-masing individu harus
dilalui dengan belajar agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembangannya, maka
belajar itu dimulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan bahkan masa tua.
Bertolak dari Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep tentang belajar terus
menerus dan berkesinambungan (continuing-learning) dari buaian sampai akhir
hayat, sejalan dengan fasefase perkembangan pada manusia. Oleh karena setiap
fase perkembangan pada masing-masing individu harus dilalui dengan belajar agar
dapat memenuhi tugas-tugas perkembangannya, maka belajar itu dimulai dari masa
kanak-kanak sampai dewasa dan bahkan masa tua. Bertolak dari fase-fase
perkembangan seperti dikemukakan Havinghurst, berimplikasi kepada keharusan
untuk belajar secara terus menerus sepanjang hayat dan memberi kemudahan kepada
para perancang pendidikan pada setiap jenjang pendidikan untuk:
a. Menentukan arah pendidikan.
b. Menentukan metode atau model belajar
anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan tugas
perkembangannya.
c. Menyiapkan materi pembelajaran yang
tepat.
d. Menyiapkan pengalaman belajar yang
cocok dengan tugas perkembangan itu
Dari segi tujuan, belajar sepanjang
hayat ini pada mulanya bersifat individual, yakni untuk memperkaya kehidupan
rohani atau intelektual seseorang. Pada taraf perkembangan selanjutnya belajar
sepanjang hayat ini mulai mengembangkan tujuan-tujan yang bersifat sosial. Mulai
disadari bahwa kegiatan belajar mengajar sepanjang hayat ini tidak hanya
menguntungkan perorangan-perorangan saja, melainkan juga bermanfaat bagi
masyarakat secara keseluruhan.
Apabila mayoritas anggota suatu masyarakat
selalu melibatkan diri dalam kesibukan belajar setelah mereka memasuki berbagai
lingkungan pekerjaan, maka pada umumnya masyarakat semacam ini akan menjadi
lebih dinamis, lebih mudah menerima gagasan-gagasan pembaruan, dan lebih mudah
pula memahami interpendensi dan interaksi yang ada antara dirinya dengan
masyarakat-masyarakat lain. Suatu masyarakat dengan kegiatan belajar sepanjang
hayat yang intensif akan lebih mudah membangun dirinya pada masyarakat yang
tidak mengembangkan kebiasaan untuk belajar secara terus menerus.
Di masyarakat pada umumnya kelompok yang amat membutuhkan layanan belajar
sepanjang hayat adalah remaja yang putus sekolah dan orang dewasa atau orang
tua yang ingin meningkatkan kehidupanya. Karena itu di tinjau dan aspek
signifakasi dan relevansi konsep belajar sepanjang hayat dalam hubungannya
dengan keinginan untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang ada dalam
masyarakat.
Maka konsep ini merupakan wahana
yang tepat dan tangguh untuk memacu kehidupan masyarakat, kalau dengan salah
satu cara dapat diusahakan :
a. Bahwa sebagian besar remaja dan orang dewasa dan orang tua
yang aktif dalam kehidupan kemasyarakatan benar-benar mendapatkan pelayanan
belajar yang memadai dan relevan dengan kebutuhan mereka sebagai individu dan
sebagai anggota masyarakat.
b. Bahwa program-program belajar seperti ini benar-benar
dikembangkan dan dilaksanakan
c. Bahwa masyarakat remaja, orang dewasa serta orang tua yang
aktif dalam kehidupan kemasyarakatan benar-benar terangsang untuk mengikuti
program-program belajar sepanjang hayat ini.
Belajar sepanjang hayat akan
berrnanfaat apabila mendapatkan respon positif dari individu atau warga
masyarakat yang memiliki kemauan dan kegemaran untuk belajar secara terus
menerus, sesuai dengan kebutuhan kebutuhan masing-masing individu warga
belajamya. Dengan demikian konsep belajar sepanjang hayat memiliki signifikasi
di dalam masyarakat.
C. Konsep Belajar Menurut Islam
Konsep adalah gambaran mental dari obyek, suatu
pemikiran, ide, suatu gagasan yang mempunyai derajat kekongkritan, proses
ataupun yang diluar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal
lain. Sedangkan belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh
individu dalam perubahan tingkah lakunya baik melalui latihan dan pengalaman
yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan
tertentu.
Konsep pendidikan Islam yaitu suatu ide atau
gagasan untuk menciptakan manusia yang baik dan bertakwa yang menyembah
Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya
sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktifitas kesehariannya
sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan. Dengan cara menanamkan nilai-nilai
fundamental Islam kepada setiap Muslim terlepas dari disiplin ilmu apapun
yang akan dikaji (Fatih Syuhud dalam Sidogiri.com).
Belajar dalam Islam juga di wajibkan sebagaimana firman
Allah Swt dalam Al-Qur’an Surat Al-Alaq ayat 1-5:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.
1.
Belajar berpusat pada peserta didik
Peserta didik di pandang sebagai
insan yang fitrah sebagai makhluk individu dan makhluk social. Setiap peserta
didik memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda, seperti perbedaan minat
(interest), kemampuan (ability), kesenangan (preference), pengalaman
(experience) dan cara belajar ( learning style). Oleh karena itu
kemampuan peserta didik dalam menerima materi pelajaran pun berbeda-beda ada
yang dengan cara membaca, mendengar, melihat ataupun ada yang mudah dengan cara
melakukan (learning by doing). Oleh karena itu, kegiatan
pembelajaran, organisasi kelas, waktu belajar, cara belajar dan penilaian harus
di sesuaikan dengan kondisi peserta didik.
2.
Belajar dengan melakukan
Melakukan
aktifitas adalah bentuk pernyataan diri peserta didik. Pada hakekatnya peserta
didik belajar sambil melakukan aktifitas. Oleh karena itu, peserta didik perlu
di beri kesempatan untuk melakukan kegiatan nyata yang perlu melibatkan
dirinya, terutama untuk mencari dan menemukan sendiri.
Kalau
di tinjau dari psikologi anak, maka anak yang normal akan selalu bertindak
sesuai dengan tingkatan perkembangan umur mereka. Menurut pandangan psikologi
setiap peserta didik hanya belajar 10% dari yang di baca, 20 % dari yang di
dengar, 30 % dari yang di lihat, 50% dari yang di lihat dan di dengar, 70 %
dari yang di katakan, dan 90% dari yang di katakan dan di lakukan. Al-Qur’an
mengemukakan ada dampak positif dari kegiatan partisipasi aktif yang di
sebut dengan amal saleh.
Firman Allah SWT dalam QS. At-Tin :6)
“Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala
yang tiada putus-putusnya”.
Dalam
pendidikan agama Islam misalkan pada pelajaran ibadah shalat, anak-anak harus
di tuntun dan di ajarkan gerakan-gerakan shalat yang benar, di ajak
ketempat-tempat ibadah dan membersihkan tempat shalat.
3.
Mengembangkan kecakapan sosial
Kegiatan
pembelajaran tidak hanya mengoptimalkan kemampuan individual peserta didik
secara internal, melainkan juga mengasah kecakapan peserta didik untuk
berkomunikasi dengan pihak lain. Karena itu kegiatan pembelajaran harus di
kondisikan yang memungkinkan peserta didik dapat berinteraksi dengan pihak lain
seperti dengan guru ataupun peserta didik lainnya yang dalam agama Islam di
sebut denganhabluminannas.
Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap
pemahaman peserta didik melalui diskusi, saling bertanya dan saling
menjelaskan. Interaksi juga dapat di tingkatkan dengan belajar kelompok,
penyampaian gagasan oleh peserta didik dapat mempertajam, memperdalam,
memantapkan atau menyempurnakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari
peserta didik lain atau guru.
4.
Mengembangkan fitrah berTuhan
Manusia
adalah makhluk yang berketuhanan bahkan sejak masih dalam kandungan mempunyai
komitmen bahwa Allah adalah Tuhannya. Adanya kebutuhan terhadap di sebabkan
manusia selaku makhluk tuhan di bekali dengan berbagai potensi (fitrah) yang di
bawanya sejak lahir. Salah satu fitrah tersebut adalah kecenderungan terhadap
agama Islam.
Usaha
pengembangan fitrah bertuhan di dalam ajaran agama islam sudah di mulai sejak
dalam kandungan dan berakhir setelah terpisahnya roh dengan badan. Pengembangan
fitrah bertuhan ini di laksanakan dalam segala jalur dan jenjang pendidikan
baik formal, non-formal maupun informal.
Oleh
karena itu, konsep pembelajaran menurut islam ialah mengajarkan anak
murid akan ke-Esaan Tuhan dan mengajarkannya pada mereka.
5.
Belajar melalui peniruan
Sejak
pase-pase awal kehidupan manusia banyak sekali belajar lewat peniruan terhadap
orang-orang di sekitarnya khususnya lewat kedua orang tuanya. Kecenderungan
manusia belajar lewat peniruan menyebabkan ketauladanan menjadi sangat penting
dalam proses belajar mengajar.
Dalam
hal ini di harapkan para pendidik (guru) dapat memberikan tauladan yang baik
bagi para peserta didik dalam kegiatan pendidikan dan dalam tingkah laku
sehari-hari dengan tujuan agar peserta didik dapat melihat secara langsung mana
perbuatan yang baik sebagaimana nabi Muhamad yang menjadi suri tauladan bagi
umatnya.
Dalam
proses belajar-mengajar guru seharusnya mengajarkan kepada anak agar bisa
berbuat dan berprilaku seperti rasulallah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam
QS.Al-Ahzab: 21:
“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Dalam
kehidupan sehari-hari dapat kita saksikan tindakan keagamaan yang di lakukan
anak-anak pada dasarnya mereka peroleh dari meniru. Berdo’a, shalat, misalnya
mereka laksanakan dari hasil melihat perbuatan di lingkungannya baik berupa
pembiasaan maupun pelajaran yang intensif. “Para ahli ilmu jiwa menganggap
bahwa dalam segala hal anak merupakan peniru yang ulung”. Sifat meniru ini
merupakan metode yang positif pada pendidikan keagamaan pada anak.
Agar
peserta didik meniru yang positif dan baik dari gurunya, maka guru harus
menjadikan diri sebagai uswatun hasanah dengan menampilkan diri sebagai sumber
norma, budi pekerti yang luhur, wajah yang cerah dan perilaku yang elok.
6.
Belajar melalui pembiasaan
Pembiasaan
adalah upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan anak. Hasil dari
pembiasaan yang di lakukan oleh pendidik adalah terciptanya suatu kebiasaan
bagi anak didik. Kebiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu yang
sifatnya otomatis, tanpa di rencanakan terlebih dahulu, dan berlaku dengan
begitu saja tanpa di pikirkan lagi.
Dalam
kehidupan sehari-hari pembiasaan itu merupakan hal yang sangat penting, karena
banyak kita lihat orang berbuat dan bertingkah laku hanya karena kebiasaan
semata-mata. Oleh karena itu sebelum melakukan sesuatu kita harus memikirkan
terlebih dahulu apa yang akan kita lakukan.
Pembiasaan
dalam pendidikan agama hendaknya di mulai sedini mungkin. Rasulallah
memerintahkan kepada para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan
shalat tatkala berumur tujuh tahun.
Keterkaitannya
dengan proses belajar mengajar ialah agar para gurunya memerintahkan kepada
para peserta didik agar melakukan pembiasaan yang baik sejak dini.
D. Ruang Lingkup
Belajar Menurut islam
Adapun ruang lingkup pendidikan secara garis besar dalam
konsep islam dibagi menjadi 3, yaitu:
1. keimanan
Pengertian
iman dari bahasa Arab yang
artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan
dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan).
Dengan demikian, pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati
bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan
kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta
dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.
Jadi,
seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila
memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam
hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan
dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan
sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan
satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
Beriman
kepada Allah adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi seseorang. Allah
memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah
yang artinya:
“Wahai
orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad)
dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang
diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu
telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa : 136)
2. akhlak
Tujuan dari pembelajarn selain untuk mengoptimalkan
intelektualnya yang terpenting adalah penanaman akhlak yang baik terhadap para
peserta didik. Akhlak adalah karakter (pembawaan,
perangai) dan tabiat. Akhlak sebagaimana dikatakan ahlul ‘ilmi adalah bentuk
batin manusia. Karena manusia mempunyai dua bentuk:
Bentuk
lahir, yaitu bentuk ciptaannya yang
Allah menjadikan badan pada bentuk itu. Dan bentuk lahir ini ada yang indah
bagus, dan ada yang buruk jelek, dan ada yang di antara itu.
dan bentuk bathin, yaitu keadaan jiwa yang kokoh
(tertancap kuat), yang muncul darinya [perbuatan-perbuatan yang bagus atau yang
jelek, tanpa butuh kepada pemikiran dan pertimbangan. Bentuk bathin ini juga ada yang bagus, jika yang muncul
darinya adalah] akhlak yang bagus, dan ada yang jelek jika yang muncul darinya
adalah akhlak yang jelek. Inilah yang disebut dengan akhlak. Jadi akhlak adalah
bentuk bathin yang manusia diperangaikan pada bentuk itu.
3. intelektual
Belajar adalah untuk mengembangkan intelektulaitas anak
dari hal yang belum tahu sampai ia mengetahuinya. Intelektual artinya
kecerdasan yang di miliki oleh peserta didik dan ini dapat di asah dan di
kembangkan melalui pembelajaran dan pendidikan.
E. Ciri-Ciri Belajar
Belajar merupakan tindakan siswa yang kompleks. Yang
hanya dialami oleh siswa itu sendiri.
Unsur-unsur
|
Unsur-unsur
|
Pelaku
tujuan
proses
tempat
syarat terjadi
ukuran keberhasilan
faedah
Hasil
|
Siswa yang bertindak belajar/pembelajar
Memperoleh hasil belajar/pengalaman hidup
Internal pada diri pembelajar
Disembarang tempat belajar
Motivasi belajar yang kuat
Dapat memecahkan masalah
Mempertinggi martabat pribadi
Hasil beajar sebagai dampak pengajaran
|
F. Tujuan Belajar
Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah.
Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua
subjek, yaitu dari siswa dan dari guru. Dari segi siswa, belajar dialami
sebagai suatu proses. Siswa mengalami proses mental dan menghadapi bahan
belajar. Bahan belajar tersebut berupa keadaan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan,
manusia, dan bahan yang telah terhimpun dalam buku-buku pelajaran. Dari segi
guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang suatu
hal. Belajar merupakan proses internal dan kompleks.
Yang terlibat dalam proses
internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif,
efektif, dan psikomotorik. Proses belajar yang mengaktualisasikan ranah-ranah
tersebut tertuju pada bahan belajar tertentu. Dalam firman Allah SWT : “Allah niscaya mengangkat
derajat orang-orang yang beriman dan mereka yang berilmu pengetahuan bertingkat
derajat dan Allah maha mengetahui terhadap apa yang kamu lakukan”.(Qs.
Al-mujadalah : 11).
Artinya: ”Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan
kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah
niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
G. Arti Penting Belajar menurut Al-Qur’an
Agama islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk
selalu belajar. Bahkan islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk
belajar. Perlu diketahui bahwa setiap apa yang dikerjakan, pasti dibaliknya
terkandung hikmah atau sesuatu yang penting bagi manusia. Beberapa hal penting
yang berkaitan dengan belajar antara lain:
1. Bahwa orang
yang belajar akan mendapatkan ilmu yang dapat digunakan untuk memecahkan segala
masalah yang dihadapinya di kehidupan dunia
2. Manusia dapat
mengetahui dan memahami apa yang dilakukannya karena Allah sangat membenci
orang yang tidak memiliki pengetahuan akan apa yang dilakukannya karena setiap
apa yang diperbuat akan dimintai pertanggungjawabannya.
3. Dengan ilmu
yang dimilikinya, mampu mengangkat derajatnya di mata Allah. Belajar merupakan
akibat adanya interaksi antara stimumulus dan respon. Seseorang dianggap telah
belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori
ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output
yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada
pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap
stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus
dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diukur, yang
dapat diamati adalah stimulus dan respon.( Anonymous.2010.www.wordpress.com.Konsep
Pembelajaran Islami).
H. Konsep Strategi
Belajar-Mengajar Yang Islami
Strategi Belajar-Mengajar Menurut Konsep Islami, pada
dasarnya sebagai berikut:
a. Proses belajar
mengajar dilandasi dengan kewajiban yang dikaitkan dengan niat ibadah kepada
Allah.
b. Konsep strategi
belajar mengajar memerlukan kreativitas baik metodologi maupun desain
pembelajaran.
c. Mendidik dengan
ketauladanan yang baik
d. Membutuhkan
pembiasaan-pembiasaan untuk mencapai hasil yang maksimal
e. Mengadakan
evaluasi
f. Dalam proses
pembelajaran belajar-mengajar harus diawali dan diakhiri dengan do’a.
Dalam Al-Quran, cara belajar yang membutuhkan usaha
manusia, sebagaimana dikemukakan ole Najati (2005), dapat melalui
meniru(imitasi), coba-coba (trial and eror), atau melalui pemikiran dan membuat
konklusi logis.
I. Konsep Belajar Menurut Tokoh-Tokoh Islam
1. Al-Ghazali
Menurut Al-Ghazali proses belajar adalah usaha
orang itu untuk mencari ilmu karena itu belajar itu sendiri tidak terlepas dari
ilmu yang akan dipelajarinya. Berkaitan dengan ilmu, Al-Ghazali
berpendapat ilmu yang dipelajari dapat dari dua segi, yaitu ilmu sebagai proses
dan ilmu sebagai objek.
Pertama, sebagai proses, Al-Ghazali
megklasifikasikan ilmu menjadi tiga. Pertama ilmu hissiyah (ilmu yang diperoleh
melalui pengindraan). Kedua, ilmu Aqliyah (ilmu yang diperoleh melalui kegiatan
berpikir (akal). Ketiga, ilmu Ladunni (ilmu yang langsung diperoleh dari Allah
tanpa berfikir dan proses pengindraan.
Kedua, sebagai objek, Al-Ghazali membagi ilmu
menjadi tiga macam. Pertama, ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak baik
sedikit maupun banyak seperti sihir. Kedua, ilmu pengetahuan yang terpuji baik
sedikit maupun banyak. Dan Ketiga, ilmu pengetahuan yang dalam kadar tertentu
terpuji tetapi bila mendalaminya tercela seperti ilmu ketuhanan, cabang ilmu
filsafat (Wahyuni dan Baharuddin, 2010).
Menurut Al-Ghazali ilmu terdiri dari dua jenis,
yaitu ilmu kasbi dan ilmu ladunni. Ilmu kasbi adalah cara berfikir sistematik
dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahapmelalui proses
pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan. Ilmu Ladunni adalah ilmu
yang diperoleh orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses perolehan ilmu
pada umumnya tetapi melalui proses pencerahan oleh hadirnya cahaya ilahi dalam
qalbu. Menurut Al-Ghazali pendekatan belajar dalam menuntut ilmu
dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan ta’lim insani dan
ta’lim rabbani (Wahyuni dan Baharuddin, 2010)
2. Al-Zarnuji
Konsep pendidikan Al-Zarnuji tertuang dalam karya
monumentalnya, kitab ” Ta’lim al-Mutallim Thuruq al-Ta’allum” konsep pendidikan
yang dikemukakan antara lain:
1. pengertian ilmu dan keutamaannya
2. niat belajar
3. memilih guru, ilmu, teman dan ketabahan
dalam belajar
4. megormati ilmu dan ulama
5. ketekunan,
kontuinitas, dan cita-cita luhur
6. permulaan dan insensitas belajar serta
tata tertibnya
7. tawakkal kepada Allah SWT
8. Masa belajar
9. kasih sayang dan memberi nasihat
10. mengambil pelajaran
11. wara’ (menjaga diri dari yang syubhat
dan haram) pada masa belajar
12. penyebab hafal dan lupa
13. masalah rezeki dan ilmu umur
Al-Zarnuji membagi ilmu pengetahuan dalam empat kategori.
Pertama, ilmu Fardhu ’ain yaitu ilmu yang wajib di pelajari oleh setiap muslim
individual. Kedua, ilmu fardhu kifayah yaitu ilmu yang kebutuhannya hanya dalam
saat-sata tertentu saja, misalnya ilmu shalat jenazah. Ketiga, Ilmu haram,
yaitu ilmu yang haram untuk dipelajari, seperti ilmu nujum. Keempat, ilmu jawas
yaitu ilmu yang yang hukum mempelajarinya boleh karena bermanfaat bagi manusia
(Wahyuni dan Baharuddin, 2010).
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa
belajar merupakan hal terpenting dalam hidup karena Rasulallahpun menyuruh
umatnya untuk terus menuntut ilmu dan menjadi orang yang berilmu. Belajar dapat
di lakukan melalui pendidikan baik pendidikan formal, non formal maupun
informal.
Dalam belajar , islam memberikan beberapa konsep yang
dapat di gunakan oleh para peserta didik agar mengajar bukan semata-mata
hanya melaksanakan tugas namun lebih dari itu yaitu dapat membentuk karakter
siswa yang baik. Konsep tersebut di antaranya konsep belajar sepanjang hayat,
berpusat pada peserta didik, belajar dengan melakukan, mengembangkan kecakapan
sosial, mengembangkan fitrah bertuhan, belajar melalui peniruan, dan belajar
melalui pembiasaan.Melalui konsep tersebut di harapkan hasil pembelajaran akan
sesuai dengan tujuan pendidikan.