Kamis, 29 Mei 2014

Konsep Belajar Menurut Islam

Penulis: Budiman, S.Pd.I,MM.Pd
Kepala MIN 2 Palembang


Pendahuluan
Pada dasarnya sistem pendidikan Islam didasarkan pada sebuah kesadaran bahwa setiap Muslim wajib menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi yang yang menganjurkan umat manusia untuk menuntut ilmu serta menggambarkan orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya motivasi seorang Muslim untuk mencari ilmu adalah dorongan ruhiyah, bukan untuk mengejar faktor duniawi semata. Seorang Muslim yang giat belajar karena terdorong oleh keimanannya, bahwa Allah Swt sangat cinta dan memuliakan orang-orang yang mencari ilmu dan berilmu di dunia dan di akhirat.

Betapa pentingnya pendidikan, karena hanya dengan proses pendidikanlah manusia dapat mempertahankan eksistensinya sebagai manusia yang mulia, melalui pemberdayaan potensi dasar dan karunia yang telah diberikan Allah. Apabila semua itu dilupakan dengan mengabaikan pendidikan, manusia akan kehilangan jatidirinya. Dengan pendidikan, orang akan memiliki ilmu yang akan di gunakan sebagai pegangan dalam mencapai kebahagian di dunia dan akhirat. Tentunya ilmu yang baik dan bermanmanfaat untuk pribadi dan masyarakat. Untuk mendapatkan pendidikan dan ilmu di lakukan melalui konsep-konsep pembelajaran yang yang baik.

Dalam Islam, pentingnya pendidikan tidak semata-mata mementingkan individu, melainkan erat kaitannya dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Konsep belajar/pendidikan dalam Islam berkaitan erat dengan lingkungan dan kepentingan umat. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan senantiasa dikorelasikan dengan kebutuhan lingkungan, dan lingkungan dijadikan sebagai sumber belajar. Seorang peserta didik yang diberi kesempatan untuk belajar yang berwawasan lingkungan akan menumbuhkembangkan potensi manusia sebagai pemimpin.

Pembahasan
A. Pengertian Konsep Belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia selain memiliki rancangan, konsep juga bermakna ide atau pengertian yang di abtraksikan dari peristiwa-peristiwa konkrit atau gambaran mental dan obyek proses ataupun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi memahami hal-hal lain.
Kata konsep dari bahasa inggris (concept), yang berarti bagan, rencana, gagasan, pandangan, cita-cita (yang telah ada dalam fikiran). Sedangkan menurut Ibrahim Madkur, kata konsep (Inggris: concept) dipadankan dengan istilah makna kulli (Arab), yang artinya pikiran (gagasan) yang bersifat umum, yang dapat menerima generalisasi. Sedangkan dengan makna-makna tersebut, maka konsep yang dimaksudkan dalam pengertian ini, ialah sejumlah gagasan, ide-ide, pemikiran, pandangan ataupun teori-teori yang dalam konteks ini dimaksudkan ialah ide-ide, gagasan, pemikiran tentang belajar sepanjang hayat.
Adapun belajar itu sendiri dapat didefinisikan antara lain:

Hilgard mengatakan : Learning is the proses by which an activity originates as changed through training procedures (whether in the laboratory or in the natural environment). Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam Iingkungan alamiah).

Morgan, belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.

James P. Chaplin, learning (hal belajar, pengetahuan), yang berarti perolehan dari sembarang perubahan yang relative permanent dalam tingkah laku sebagai hasil praktek atualisai pengalaman. Dari beberapa pengertian belajar tersebut, Sumadi Suryabrata menyimpulkan:

a. Bahwa belajar itu membawa perubahan (dalam anti behavioral changed, aktual maupun potensial.
b. Bahwa perubahan itu ada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru.
c. Bahwa perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja).

Dikatakan belajar apabila membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan, melainkan juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penghargaan, minat, penyesuaian diri. Pendeknya mengenai segala aspek organisme atau pribadi seseorang. Karena itu seorang yang belajar ia tidak sama lagi dengan saat sebelumnya, karena ia lebih sanggup menghadapi kesulitan memecahkan masalah atau menyesuaikan diri dengan keadaan. 

Ia tidak hanya bertambah pengetahuannya, akan tetapi dapat pula menerapkannya secara fungsional dalam situasi hidupnya. Jadi berdasarkan uraian diatas tentang konsep dan belar dapat kitasimpulkan konsep belajar adalah Gagasan atau rancangan tentang agarbagaimana belajar dapat berjalan sesuai dengan konsep agar belajar dapat berjalan secara baik.

B. Konsep belajar Sepanjang Hayat
Dalam dalil belajar islam disebutkan “carilah ilmu dari buaian hingga liang lahat” Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep, suatu ide, gagasan pokok islam dalam konsep ini ialah bahwa belajar itu tidak hanya berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan formal seseorang masih dapat memperoleh pengetahuan kalau ia mau, setelah ia selesai mengikuti pendidikan di suatu lembaga pendidikan formal. Ditekankan pula bahwa belajar dalam arti sebenarnya adalah sesuatu yang berlangsung sepanjang kehidupan seseorang. Bedasarkan idea tersebut konsep belajar sepanjang hayat sering pula dikatakan sebagai belajan berkesinambungan (continuing learning). 

Dengan terus menerus belajar, seseorang tidak akan ketinggalan zaman dan dapat memperbaharui pengetahuannya, terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut. Dengan pengetahuan yang selalu diperbaharui ini, mereka tidak akan terasing dari generasi muda, mereka tidak akan menjadi snile atau pikun secara dini, dan tetap dapat memberikan sumbangannya bagi kehidupan di lingkungannya

Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep tentang belajar terus menerus dan berkesinambungan (continuing-learning) dari buaian sampai akhir hayat, sejalan dengan fasefase perkembangan pada manusia. Oleh karena setiap fase perkembangan pada masing-masing individu harus dilalui dengan belajar agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembangannya, maka belajar itu dimulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan bahkan masa tua. 

Bertolak dari Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep tentang belajar terus menerus dan berkesinambungan (continuing-learning) dari buaian sampai akhir hayat, sejalan dengan fasefase perkembangan pada manusia. Oleh karena setiap fase perkembangan pada masing-masing individu harus dilalui dengan belajar agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembangannya, maka belajar itu dimulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan bahkan masa tua. Bertolak dari fase-fase perkembangan seperti dikemukakan Havinghurst, berimplikasi kepada keharusan untuk belajar secara terus menerus sepanjang hayat dan memberi kemudahan kepada para perancang pendidikan pada setiap jenjang pendidikan untuk:

a. Menentukan arah pendidikan.
b. Menentukan metode atau model belajar anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan tugas      
    perkembangannya.
c. Menyiapkan materi pembelajaran yang tepat.
d. Menyiapkan pengalaman belajar yang cocok dengan tugas perkembangan itu

Dari segi tujuan, belajar sepanjang hayat ini pada mulanya bersifat individual, yakni untuk memperkaya kehidupan rohani atau intelektual seseorang. Pada taraf perkembangan selanjutnya belajar sepanjang hayat ini mulai mengembangkan tujuan-tujan yang bersifat sosial. Mulai disadari bahwa kegiatan belajar mengajar sepanjang hayat ini tidak hanya menguntungkan perorangan-perorangan saja, melainkan juga bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. 

Apabila mayoritas anggota suatu masyarakat selalu melibatkan diri dalam kesibukan belajar setelah mereka memasuki berbagai lingkungan pekerjaan, maka pada umumnya masyarakat semacam ini akan menjadi lebih dinamis, lebih mudah menerima gagasan-gagasan pembaruan, dan lebih mudah pula memahami interpendensi dan interaksi yang ada antara dirinya dengan masyarakat-masyarakat lain. Suatu masyarakat dengan kegiatan belajar sepanjang hayat yang intensif akan lebih mudah membangun dirinya pada masyarakat yang tidak mengembangkan kebiasaan untuk belajar secara terus menerus.


Di masyarakat pada umumnya kelompok yang amat membutuhkan layanan belajar sepanjang hayat adalah remaja yang putus sekolah dan orang dewasa atau orang tua yang ingin meningkatkan kehidupanya. Karena itu di tinjau dan aspek signifakasi dan relevansi konsep belajar sepanjang hayat dalam hubungannya dengan keinginan untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang ada dalam masyarakat.

Maka konsep ini merupakan wahana yang tepat dan tangguh untuk memacu kehidupan masyarakat, kalau dengan salah satu cara dapat diusahakan :

a.  Bahwa sebagian besar remaja dan orang dewasa dan orang tua yang aktif dalam kehidupan kemasyarakatan benar-benar mendapatkan pelayanan belajar yang memadai dan relevan dengan kebutuhan mereka sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat.
b.   Bahwa program-program belajar seperti ini benar-benar dikembangkan dan dilaksanakan
c. Bahwa masyarakat remaja, orang dewasa serta orang tua yang aktif dalam kehidupan kemasyarakatan benar-benar terangsang untuk mengikuti program-program belajar sepanjang hayat ini.
           
Belajar sepanjang hayat akan berrnanfaat apabila mendapatkan respon positif dari individu atau warga masyarakat yang memiliki kemauan dan kegemaran untuk belajar secara terus menerus, sesuai dengan kebutuhan kebutuhan masing-masing individu warga belajamya. Dengan demikian konsep belajar sepanjang hayat memiliki signifikasi di dalam masyarakat.

C. Konsep Belajar Menurut Islam       
Konsep adalah gambaran mental dari obyek, suatu pemikiran, ide, suatu gagasan yang mempunyai derajat kekongkritan, proses ataupun yang diluar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Sedangkan  belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah lakunya baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu.
           
Konsep pendidikan Islam yaitu suatu ide atau gagasan  untuk menciptakan manusia yang baik dan bertakwa yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya  sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktifitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan. Dengan cara menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap Muslim terlepas  dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji (Fatih Syuhud dalam  Sidogiri.com).
           
Belajar dalam Islam juga di wajibkan sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an Surat Al-Alaq ayat 1-5:
1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.


1. Belajar berpusat pada peserta didik           
Peserta didik di pandang sebagai insan yang fitrah sebagai makhluk individu dan makhluk social. Setiap peserta didik memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda, seperti perbedaan minat (interest), kemampuan (ability), kesenangan (preference), pengalaman (experience) dan cara belajar ( learning  style). Oleh karena itu kemampuan peserta didik dalam menerima materi pelajaran pun berbeda-beda ada yang dengan cara membaca, mendengar, melihat ataupun ada yang mudah dengan cara melakukan (learning by doing). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, waktu belajar, cara belajar dan penilaian harus di sesuaikan dengan kondisi peserta didik.

2. Belajar dengan melakukan
Melakukan aktifitas adalah bentuk pernyataan diri peserta didik. Pada hakekatnya peserta didik belajar sambil melakukan aktifitas. Oleh karena itu, peserta didik perlu di beri kesempatan untuk melakukan kegiatan nyata yang perlu melibatkan dirinya, terutama untuk mencari dan menemukan sendiri.
           
Kalau di tinjau dari psikologi anak, maka anak yang normal akan selalu bertindak sesuai dengan tingkatan perkembangan umur mereka. Menurut pandangan psikologi setiap peserta didik hanya belajar 10% dari yang di baca, 20 % dari yang di dengar, 30 % dari yang di lihat, 50% dari yang di lihat dan di dengar, 70 % dari yang di katakan, dan 90% dari yang di katakan dan di lakukan. Al-Qur’an mengemukakan ada dampak positif dari kegiatan partisipasi aktif  yang di sebut dengan amal saleh. 

Firman Allah SWT dalam QS. At-Tin :6)
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.
           
Dalam pendidikan agama Islam misalkan pada pelajaran ibadah shalat, anak-anak harus di tuntun dan di ajarkan gerakan-gerakan shalat yang benar, di ajak ketempat-tempat ibadah dan membersihkan tempat shalat.

3. Mengembangkan kecakapan sosial
Kegiatan pembelajaran tidak hanya mengoptimalkan kemampuan individual peserta didik secara internal, melainkan juga mengasah kecakapan peserta didik untuk berkomunikasi dengan pihak lain. Karena itu kegiatan pembelajaran harus di kondisikan yang memungkinkan peserta didik dapat berinteraksi dengan pihak lain seperti dengan guru ataupun peserta didik lainnya yang dalam agama Islam di sebut denganhabluminannas.
           
Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman peserta didik melalui diskusi, saling bertanya dan saling menjelaskan. Interaksi juga dapat di tingkatkan dengan belajar kelompok, penyampaian gagasan oleh peserta didik dapat mempertajam, memperdalam, memantapkan atau menyempurnakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari peserta didik lain atau guru.

4. Mengembangkan fitrah berTuhan        
Manusia adalah makhluk yang berketuhanan bahkan sejak masih dalam kandungan mempunyai komitmen bahwa Allah adalah Tuhannya. Adanya kebutuhan terhadap di sebabkan manusia selaku makhluk tuhan di bekali dengan berbagai potensi (fitrah) yang di bawanya sejak lahir. Salah satu fitrah tersebut adalah kecenderungan terhadap agama Islam.
           
Usaha pengembangan fitrah bertuhan di dalam ajaran agama islam sudah di mulai sejak dalam kandungan dan berakhir setelah terpisahnya roh dengan badan. Pengembangan fitrah bertuhan ini di laksanakan dalam segala jalur dan jenjang pendidikan baik formal, non-formal maupun informal.
           
Oleh karena itu, konsep pembelajaran menurut islam ialah  mengajarkan anak murid akan ke-Esaan Tuhan dan mengajarkannya pada mereka.

5. Belajar melalui peniruan    
Sejak pase-pase awal kehidupan manusia banyak sekali belajar lewat peniruan terhadap orang-orang di sekitarnya khususnya lewat kedua orang tuanya. Kecenderungan manusia belajar lewat peniruan menyebabkan ketauladanan menjadi sangat penting dalam proses belajar mengajar.
           
Dalam hal ini di harapkan para pendidik (guru) dapat memberikan tauladan yang baik bagi para peserta didik dalam kegiatan pendidikan dan dalam tingkah laku sehari-hari dengan tujuan agar peserta didik dapat melihat secara langsung mana perbuatan yang baik sebagaimana nabi Muhamad yang menjadi suri tauladan bagi umatnya.
           
Dalam proses belajar-mengajar guru seharusnya mengajarkan kepada anak agar bisa berbuat dan berprilaku seperti rasulallah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS.Al-Ahzab: 21:

 “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

            
Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita saksikan tindakan keagamaan yang di lakukan anak-anak pada dasarnya mereka peroleh dari meniru. Berdo’a, shalat, misalnya mereka laksanakan dari hasil melihat perbuatan di lingkungannya baik berupa pembiasaan maupun pelajaran yang intensif. “Para ahli ilmu jiwa menganggap bahwa dalam segala hal anak merupakan peniru yang ulung”. Sifat meniru ini merupakan metode yang positif pada pendidikan keagamaan pada anak.
           
Agar peserta didik meniru yang positif dan baik dari gurunya, maka guru harus menjadikan diri sebagai uswatun hasanah dengan menampilkan diri sebagai sumber norma, budi pekerti yang luhur, wajah yang cerah dan perilaku yang elok.

6. Belajar melalui pembiasaan      
Pembiasaan adalah upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan anak. Hasil dari pembiasaan yang di lakukan oleh pendidik adalah terciptanya suatu kebiasaan bagi anak didik. Kebiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu  yang sifatnya otomatis, tanpa di rencanakan terlebih dahulu, dan berlaku dengan begitu saja tanpa di pikirkan lagi.
           
Dalam kehidupan sehari-hari pembiasaan itu merupakan hal yang sangat penting, karena banyak kita lihat orang berbuat dan bertingkah laku hanya karena kebiasaan semata-mata. Oleh karena itu sebelum melakukan sesuatu kita harus memikirkan terlebih dahulu apa yang akan kita lakukan.
           
Pembiasaan dalam pendidikan agama hendaknya di mulai sedini mungkin. Rasulallah memerintahkan kepada para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan shalat tatkala berumur tujuh tahun.
           
Keterkaitannya dengan proses belajar mengajar ialah agar para gurunya memerintahkan kepada para peserta didik agar melakukan pembiasaan yang baik sejak dini.


D. Ruang Lingkup Belajar Menurut islam         
Adapun ruang lingkup pendidikan secara garis besar dalam konsep islam dibagi menjadi 3, yaitu:

1. keimanan          
Pengertian iman dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.
           
Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
           
Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi seseorang. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:
           
“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa : 136)


2. akhlak   
Tujuan dari pembelajarn selain untuk mengoptimalkan intelektualnya yang terpenting adalah penanaman akhlak yang baik terhadap para peserta didik. Akhlak adalah karakter (pembawaan, perangai) dan tabiat. Akhlak sebagaimana dikatakan ahlul ‘ilmi adalah bentuk batin manusia. Karena manusia mempunyai dua bentuk:

Bentuk lahir, yaitu bentuk ciptaannya yang Allah menjadikan badan pada bentuk itu. Dan bentuk lahir ini ada yang indah bagus, dan ada yang buruk jelek, dan ada yang di antara itu.

dan bentuk bathin, yaitu keadaan jiwa yang kokoh (tertancap kuat), yang muncul darinya [perbuatan-perbuatan yang bagus atau yang jelek, tanpa butuh kepada pemikiran dan pertimbangan. Bentuk bathin ini juga ada yang bagus, jika yang muncul darinya adalah] akhlak yang bagus, dan ada yang jelek jika yang muncul darinya adalah akhlak yang jelek. Inilah yang disebut dengan akhlak. Jadi akhlak adalah bentuk bathin yang manusia diperangaikan pada bentuk itu.

3. intelektual      
Belajar adalah untuk mengembangkan intelektulaitas anak dari hal yang belum tahu sampai ia mengetahuinya. Intelektual artinya kecerdasan yang di miliki oleh peserta didik dan ini dapat di asah dan di kembangkan melalui pembelajaran dan pendidikan.

E. Ciri-Ciri Belajar
Belajar merupakan tindakan siswa yang kompleks. Yang hanya dialami oleh siswa itu sendiri.

Unsur-unsur
Unsur-unsur
       Pelaku
       tujuan
       proses
       tempat
       syarat terjadi
       ukuran keberhasilan
      faedah
      Hasil
Siswa yang bertindak belajar/pembelajar
Memperoleh hasil belajar/pengalaman hidup
Internal pada diri pembelajar
Disembarang tempat belajar
Motivasi belajar  yang kuat
Dapat memecahkan masalah
Mempertinggi martabat pribadi
Hasil beajar sebagai dampak pengajaran


F. Tujuan Belajar
Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan dari guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses. Siswa mengalami proses mental dan menghadapi bahan belajar. Bahan belajar tersebut berupa keadaan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, dan bahan yang telah terhimpun dalam buku-buku pelajaran. Dari segi guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang suatu hal. Belajar merupakan proses internal dan kompleks. 

Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif, efektif, dan psikomotorik. Proses belajar yang mengaktualisasikan ranah-ranah tersebut tertuju pada bahan belajar tertentu. Dalam firman Allah SWT :  “Allah niscaya mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan mereka yang berilmu pengetahuan bertingkat derajat dan Allah maha mengetahui terhadap apa yang kamu lakukan”.(Qs. Al-mujadalah : 11).

Artinya: ”Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

G. Arti Penting Belajar menurut Al-Qur’an
Agama islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar. Bahkan islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar. Perlu diketahui bahwa setiap apa yang dikerjakan, pasti dibaliknya terkandung hikmah atau sesuatu yang penting bagi manusia. Beberapa hal penting yang berkaitan dengan belajar antara lain:
1.  Bahwa orang yang belajar akan mendapatkan ilmu yang dapat digunakan untuk memecahkan segala masalah yang dihadapinya di kehidupan dunia
2.   Manusia dapat mengetahui dan memahami apa yang dilakukannya karena Allah sangat membenci orang yang tidak memiliki pengetahuan akan apa yang dilakukannya karena setiap apa yang diperbuat akan dimintai pertanggungjawabannya.
3.   Dengan ilmu yang dimilikinya, mampu mengangkat derajatnya di mata Allah. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimumulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon.( Anonymous.2010.www.wordpress.com.Konsep Pembelajaran Islami).

H. Konsep Strategi Belajar-Mengajar Yang Islami       
Strategi Belajar-Mengajar Menurut Konsep Islami, pada dasarnya sebagai berikut:
a.  Proses belajar mengajar dilandasi dengan kewajiban yang dikaitkan dengan niat ibadah kepada 
    Allah.
b.  Konsep strategi belajar mengajar memerlukan kreativitas baik metodologi maupun desain 
     pembelajaran.
c.   Mendidik dengan ketauladanan yang baik
d.  Membutuhkan pembiasaan-pembiasaan untuk mencapai hasil yang maksimal
e.  Mengadakan evaluasi
f.  Dalam proses pembelajaran belajar-mengajar harus diawali dan diakhiri dengan do’a.

Dalam Al-Quran, cara belajar yang membutuhkan usaha manusia, sebagaimana dikemukakan ole Najati (2005), dapat melalui meniru(imitasi), coba-coba (trial and eror), atau melalui pemikiran dan membuat konklusi logis.


I. Konsep Belajar Menurut Tokoh-Tokoh Islam
1. Al-Ghazali    
Menurut Al-Ghazali  proses belajar adalah usaha orang itu untuk mencari ilmu karena itu belajar itu sendiri tidak terlepas dari ilmu yang akan dipelajarinya. Berkaitan dengan ilmu,  Al-Ghazali berpendapat ilmu yang dipelajari dapat dari dua segi, yaitu ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai objek.
            
Pertama, sebagai proses, Al-Ghazali  megklasifikasikan ilmu menjadi tiga. Pertama ilmu hissiyah (ilmu yang diperoleh melalui pengindraan). Kedua, ilmu Aqliyah (ilmu yang diperoleh melalui kegiatan berpikir (akal). Ketiga, ilmu Ladunni (ilmu yang langsung diperoleh dari Allah tanpa berfikir dan proses pengindraan.
           
Kedua, sebagai objek, Al-Ghazali   membagi ilmu menjadi tiga macam. Pertama, ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak baik sedikit maupun banyak seperti sihir. Kedua, ilmu pengetahuan yang terpuji baik sedikit maupun banyak. Dan Ketiga, ilmu pengetahuan yang dalam kadar tertentu terpuji tetapi bila mendalaminya tercela seperti ilmu ketuhanan, cabang ilmu filsafat (Wahyuni dan Baharuddin, 2010).
           
Menurut Al-Ghazali  ilmu terdiri dari dua jenis, yaitu ilmu kasbi dan ilmu ladunni. Ilmu kasbi adalah cara berfikir sistematik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahapmelalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan.  Ilmu Ladunni adalah ilmu yang diperoleh orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses perolehan ilmu pada umumnya tetapi melalui proses pencerahan oleh hadirnya cahaya ilahi dalam qalbu. Menurut Al-Ghazali   pendekatan belajar dalam menuntut ilmu dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan ta’lim insani dan ta’lim rabbani (Wahyuni dan Baharuddin, 2010)

2. Al-Zarnuji     
Konsep pendidikan Al-Zarnuji tertuang dalam karya monumentalnya, kitab ” Ta’lim al-Mutallim Thuruq al-Ta’allum” konsep pendidikan yang dikemukakan antara lain:
1. pengertian ilmu dan keutamaannya
2. niat belajar
3. memilih guru, ilmu, teman dan ketabahan dalam belajar
4. megormati ilmu dan ulama
5. ketekunan, kontuinitas, dan cita-cita luhur
6. permulaan dan insensitas belajar serta tata tertibnya
7. tawakkal kepada Allah SWT
8. Masa belajar
9. kasih sayang dan memberi nasihat
10. mengambil pelajaran
11. wara’ (menjaga diri dari yang syubhat dan haram) pada masa belajar
12.  penyebab hafal dan lupa
13.  masalah rezeki dan ilmu  umur
       
Al-Zarnuji membagi ilmu pengetahuan dalam empat kategori. Pertama, ilmu Fardhu ’ain yaitu ilmu yang wajib di pelajari oleh setiap muslim individual. Kedua, ilmu fardhu kifayah yaitu ilmu yang kebutuhannya hanya dalam saat-sata tertentu saja, misalnya ilmu shalat jenazah. Ketiga, Ilmu haram, yaitu ilmu yang haram untuk dipelajari, seperti ilmu nujum. Keempat, ilmu jawas yaitu ilmu yang yang hukum mempelajarinya boleh karena bermanfaat bagi manusia (Wahyuni dan Baharuddin, 2010).


Kesimpulan   
Dari pembahasan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa belajar merupakan hal terpenting dalam hidup karena Rasulallahpun menyuruh umatnya untuk terus menuntut ilmu dan menjadi orang yang berilmu. Belajar dapat di lakukan melalui pendidikan baik pendidikan formal, non formal maupun informal.
           
Dalam belajar , islam memberikan beberapa konsep yang dapat di gunakan oleh para peserta didik agar mengajar  bukan semata-mata hanya melaksanakan tugas namun lebih dari itu yaitu dapat membentuk karakter siswa yang baik. Konsep tersebut di antaranya konsep belajar sepanjang hayat, berpusat pada peserta didik, belajar dengan melakukan, mengembangkan kecakapan sosial, mengembangkan fitrah bertuhan, belajar melalui peniruan, dan belajar melalui pembiasaan.Melalui konsep tersebut di harapkan hasil pembelajaran akan sesuai dengan tujuan pendidikan.


 

Copyright © 2015 Artikel MIN 2 Model Palembang™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.