Kamis, 29 Mei 2014

Manajemen kepemimpinan Untuk Meraih Mutu Pendidikan

Penulis: Budiman, S.Pd.I,MM.Pd
Kepala MIN 2 Palembang

A. Pendahuluan
Sejalan dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap akuntabilitas madrasah, maka meningkat pula tuntutan terhadap para kepala madrasah. Mereka diharapkan mampu melaksanakan fungsinya baik sebagai manajer dan leader. Untuk meningkatkan kemampuan kepala madrasah dan tenaga kependidikan yang lain, pemerintah Indonesia telah menunjukkan good will, dengan memperhatikan kesejahteraan melalui beberapa langkah antara lain: pemberian gaji, kewenangan, dan otonomi yang cukup untuk memperkuat peran manajerial mereka di madrasah.

Persoalannya adalah untuk memperoleh sejumlah penghargaan tersebut, setiap kepala madrasah harus memenuhi standar mutu yang telah digariskan oleh pemerintah, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. Hal ini, dimaksudkan agar pemberian penghargaan tersebut terarah dan tepat sasaran. Bimbingan teknis bagi kepala madrasah merupakan upaya untuk mempersiapkan kepala madrasah dalam menghadapi uji kompetensi.

Sebagai pemimpin pendidikan di madrasah, kepala madrasah memiliki tanggungjawab legal untuk mengembangkan staf, kurikulum, dan pelaksanaan pendidikan di madrasahnya. Di sinilah, efektifitas kepemimpinan kepala madrasah tergantung kepada kemampuan mereka bekerjasama dengan guru dan staf, serta kemampuannya mengendalikan pengelolaan anggaran, pengembangan staf, scheduling, pengembangan kurikulum, paedagogi, dan assessmen. Membekali kepala madrasah memiliki seperangkat kemampuan ini dirasa sangat penting.

Di samping itu untuk mewujudkan pengelolaan madrasah yang baik, perlu adanya kepala madrasah yang memiliki kemampuan sesuai tuntutan tugasnya. Untuk itu di dalam Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tetang Standar Nasional Pendidikan, pasal 38 disebutkan:

1) Kriteria untuk menjadi kepala TK/RA meliputi:
a. Berstatus sebagai guru TK/RA;
b. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai     
    ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
c. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun di TK/RA; dan
d. Memiliki kemampuan kepimpinanan dan kewirausahaan di bidang pendidikan.

(2) Kriteria untuk menjadi kepala SD/MI meliputi
a. Berstatus sebagai guru SD/MI
b. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai    
    ketentuan perundang-undangan yang berlaku
c. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun di SD/MI
d. Memiliki kemampuan kepimpinanan dan kewirausahaan di bidang pendidikan.

(3) Kriteria untuk menjadi kepala SMP/MTs/SMA/MA/SMK/MAK
meliputi:
a. Berstatus sebagai guru SMP/MTS/SMA/MA/SMK/MAK;
b. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai      
    ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
c. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun di 
        SMP/MTs/SMA/MA/SMK/MAK; dan
d. Memiliki kemampuan kepimpinanan dan kewirausahaan di bidang pendidikan.

(4) Kriteria untuk menjadi kepala SDLB/SMPLB/SMALB meliputi
a. Berstatus sebagai guru pada satuan pendidikan khusus
b. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai 
    ketentuan perundang-undangan yang berlaku
c. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun di satuan pendidikan     khusus; dan
d. Memiliki kemampuan kepimpinanan, pengelolaan, dan kewirausahaan di bidang    
   pendidikan khusus.

Dalam kerangka MBS, kepala madrasah bertanggungjawab atas pelaksanaan (1) manajemen madrasah; (2) pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM); dan (3) peningkatan peran serta masyarakat dalam mendukung program madrasah. 

Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, telah diamanatkan dalam UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 disebutkan “masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan”, dan pada pasal 9 berbunyi “ masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan”.

Untuk menjalankan tugas manajerial di atas, dan juga merespon tuntutan yang terus berubah saat ini, kepala madrasah harus memiliki kepemimpinan yang kuat agar mampu melaksanakan program-program madrasah yang mereka bina secara efektif. Hal ini, mengingat kepala madrasah tidak saja bertanggungjawab mengelola guru, murid, dan orang tua, tetapi juga harus menjalin hubungan madrasah dengan masyarakat luas. 

Untuk mendukung pelaksanaan tanggungjawab tersebut, kepala madrasah perlu memiliki kemampuan dan keterampilan kepemimpinan. Untuk membekali calon kepala madrasah agar nantinya dapat menjadi pemimpin pendidikan yang kuat dalam mengembangkan lembaga secara baik, maka mereka perlu dibekali dengan wawasan tentang kepemimpinan efektif.

B. Teori  Kepemimpinan
Apakah Kepemimpinan itu ?
Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi perilaku orang lain agar mau bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi itu mengandung dua pengertian pokok yang sangat penting tentang kepemimpinan, yaitu pertama, mempengaruhi perilaku orang lain. 

Kepe-mimpinan dalam organisasi diarahkan untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya, agar mau berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan oleh orang yang memimpinnya. Motivasi orang untuk berperilaku ada dua macam, yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. 

Dalam hal motivasi ekstrinsik perlu ada faktor di luar diri orang tersebut yang mendorongnya untuk berperi-laku tertentu. Dalam hal semacam itu kepemimpinan adalah faktor luar. Sedang motivasi intrinsik daya dorong untuk berperilaku tertentu itu berasal dari dalam diri orang itu sendiri.

Jadi semacam ada kesadaran kemauan sendiri untuk berbuat sesuatu, misalnya memperbaiki mutu kerjanya. Kepemimpinan yang merupakan faktor eksternal tadi, harus selalu dapat memotivasi anggota organisasi perguruan tinggi untuk melakukan perbaikan-perbaikan mutu. Tetapi kalau setiap kali dan dalam setiap hal harus memberi perintah atau pengarahan, itu akan menimbulkan kesulitan. 

Kalau setiap melakukan pekerjaan dengan baik itu harus dengan perintah pimpinan, dan kalau tidak ada perintah pimpinan tidak dilakukan pekerjaan dengan baik, maka perbaikan mutu kinerja yang terus menerus akan sulit diwujudkan.

Oleh karena itu MMT mengajarkan agar kepemimpinan itu selain untuk memberi pengarahan atau perintah tentang hal-hal yang perlu ditingkatkan mutunya, juga perlu digunakan untuk menumbuhkan motivasi intrinsik, yaitu menumbuhkan kesadaran akan perlunya setiap orang dalam perguruan tinggi itu selalu berupaya meningkatkan mutu kinerjanya masing-ma-sing secara individual maupun bersama-sama sebagai kelompok ataupun sebagai organisasi.

Kedua, kepemimpinan harus diarahkan agar orang-orang mau berkerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.  Jadi perilaku yang ditimbulkan oleh kepemimpinan itu berupa kesediaan orang-orang untuk saling bekerjasama mencapai tujuan organisasi yang disepakati bersama.

Dalam implementasinya kepemimpinan MMT yang berhasil adalah yang mampu menumbuhkan kesadaran orang-orang dalam perguruan tinggi untuk melakukan peningkatan-peningkatan mutu kinerja dan terciptanya kerjasama dalam kelompok-kelompok untuk meningkatkan mutu kinerja masing-masing kelompok maupun kinerja perguruan tinggi secara terpadu. Adanya kerjasama-kerjasama kelompok merupakan salah satu kunci keberhasilan MMT.

Dalam proses tersebut  pimpinan  membimbing, memberi pengarahan, mempengaruhi perasaan dan perilaku orang lain, memfasilitasi serta menggerakkan orang lain untuk bekerja menuju sasaran yang diingini bersama. Semua yang dilakukan pimpinan harus bisa dipersepsikan oleh orang lain dalam organisasinya sebagai bantuan kepada orang-orang itu untuk dapat meningkatkan mutu kinerjanya. Dalam hal ini usaha mempengaruhi perasaan mempunyai peran yang sangat penting. 

Perasaan dan emosi orang perlu disentuh dengan tujuan untuk menumbuhkan nilai-nilai baru, misalnya bekerja itu harus bermutu, atau memberi pelayanan yang sebaik mungkin kepada pelanggan itu adalah suatu keharusan yang mulia, dan lain sebagainya. Dengan nilai-nilai baru yang dimiliki itu orang akan tumbuh kesadarannya untuk berbuat yang lebih bermutu. Dalam ilmu pendidikan ini masuk dalam kawasan affective.

Tujuh Hal Mendasar yang Perlu Dikuasai untuk Kepemimpinan Mutu Pendidikan
MMT dilaksanakan dalam suatu organisasi atau institusi tertentu yang pada tahap awal implementasinya organisasi itu digerakkan oleh kepemimpinan yang sangat peduli pada mutu dan bertekad kuat untuk membuat organisasinya itu selalu dan terus menerus meningkatkan mutu kiner-janya, apakah itu dalam bentuk produk atau jasa. Kepemimpinan untuk MMT itu memerlukan modal dasar dalam bentuk penguasaan tujuh mendasar yang menyangkut kehidupan organisasinya.

1. Filosofi Organisasi :  Mengapa organisasi yang dipimpinnya ini ada dan untuk apa ? Jawaban ter-hadap pertanyaan yang sangat mendasar ini perlu dikuasai secara baik oleh semua orang yang memegang tampuk kepemimpinan dari suatu organisasi. Tanpa menguasai jawabannya secara baik diragukan apakah mereka akan mampu mengarahkan orang-orang lain dalam organisasi itu ke tujuan yang seharusnya.

2. V i s i :  Akan menjadi organisasi yang bagaimanakah organisasi itu di masa depan ? Orang-orang yang memegang kepemimpinan perlu memiliki pandangan jauh ke depan tentang organi-sasinya; mereka ingin mengembangkan organisasinya itu menjadi organisasi yang bagaimana, yang mampu berfungsi apa dan bagaimana, yang mampu memproduksi benda dan jasa apa dan yang bagaimana, serta untuk dapat disajikan kepada siapa ? Visi ini seharusnya berjangka panjang, misalnya 10 tahun atau 25 tahun ke dapan, agar dapat memfasilitasi usaha-usaha perbaikan mutu kinerja yang berkelanjutan.

3. M i s i :  Mengapa kita ada dalam organisasi ini ? Apa tugas yang harus kita lakukan ? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan visi tersebut di atas. Bagaimana visi itu akan dapat diwujudkan ?  Tugas-tugas pokok apakah yang harus dilakukan oleh organisasi agar visi atau kondisi masa depan organisasi tadi dapat diwujudkan. Rumusan tentang misi organisasi ini juga seharusnya dapat dikuasai dengan baik dan jelas oleh orang-orang yang memegang kepemimpinan agar mereka dapat memberi arahan yang benar dan jelas kepada orang-orang lain.

4. Nilai-nilai (values) :  Prinsip-prinsip apa yang diyakini sebagai kebenaran yang berfungsi sebagai pedoman dalam menjalankan tugas organisasi, dan ingin agar orang lain dalam organisasi juga mengadopsi prinsip-prinsip tersebut. Misalnya mutu, fokus pada pelanggan, disiplin, kepelayanan adalah nilai-nilai yang seharusnya dianut oleh orang-orang yang memegang kepemimpinan MMT.

5. Kebijakan (policy) :  Ialah rumusan-rumusan yang akan disampaikan kepada orang-orang dalam organisasi sebagai arahan agar mereka mengetahui apa yang harus dilakukan dalam menyediakan pelayanan dan barang kepada para pelanggan. Orang-orang yang memegang kepemim-pinan harus mampu merumuskan kebijakan-kebijakan semacam itu agar orang-orang dapat menyajikan mutu seperti yang diinginkan oleh organisasi.

6. Tujuan-tujuan Organisasi :  Ialah hal-hal yang perlu dicapai oleh organisasi dalam jangka panjang dan jangka pendek agar memungkinkan orang-orang dalam organisasi memenuhi misinya dan mewujudkan visi mereka. Tujuan-tujuan organisasi itu perlu dirumuskan secara kongkrit dan jelas.

7. Metodologi :  Adalah rumusan tentang cara-cara yang dipilih secara garis besar dalam bertindak menuju pewujudan visi dan pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Metodologi ini terbatas pada garis-garis besar yang perlu dilakukan dan bukan detil-detil teknik kerja.

Ketujuh hal yang sangat mendasar itu perlu dikuasai dan dalam implementasi MMT hal itu akan dituangkan dalam merumuskan rencana strategis untuk mutu. Tanpa kemampuan merumuskan ketujuh hal itu secara spesifik dan mengkomunikasikannya kepada orang-orang dalam organisasi, sulit bagi orang-orang itu untuk mewujudkan mutu seperti yang diinginkan.

C. Konsep Dasar Kepemimpinan Efektif di Madrasah
Sejalan dengan tuntutan masyarakat terhadap mutu pendidikan di Indonesia, belakangan ini banyak muncul ide permadrasahan modern dengan berbagai nama, seperti: Madrasah Unggul, Madrasah Terpadu, Madrasah Percontohan, dan seterusnya. 

Di beberapa negara maju gerakan ini dinamakan dengan ide Madrasah Efektif. Ciri utama madrasah efektif, berdasarkan berbagai riset meliputi: (a) kepemimpinan instruksional yang kuat; (b) harapan yang tinggi terhadap prestasi siswa; (c) adanya lingkungan belajar yang tertib dan nyaman; (d) menekankan kepada keterampilan dasar; (e) pemantauan secara kontinyu terhadap kemajuan siswa; dan (f) terumuskan tujuan madrasah secara jelas (Davis & Thomas, 1989: 12).

Untuk mewujudkan madrasah efektif hanya mungkin didukung oleh kepala madrasah sebagai pemimpin pendidikan yang efektif. Fred M. Hechinger (dalam Davis & Thomas, 1989: 17) pernah menyatakan:

Saya tidak pernah melihat madrasah yang bagus dipimpin oleh kepala madrasah yang buruk dan madrasah buruk dipimpin oleh kepala madrasah yang buruk. Saya juga menemukan madrasah yang gagal berubah menjadi sukses, sebaliknya madrasah yang sukses tiba-tiba menurun kualitasnya. Naik atau turunnya kualitas madrasah sangat tergantung kepada kualitas kepala madrasahnya.

Pandangan tersebut menganjurkan kepada para kepala madrasah untuk memahami tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin pendidikan secara cermat. Telah menjadi harapan masyarakat bahwa kepala madrasah sebagai pemimpin pendidikan selayaknya mampu memimpin dirinya sendiri dan mempunyai kelebihan dibandingkan dengan yang lainnya. 

Untuk meningkatkan kualitas diri, banyak upaya yang dapat ditempuh. Adair (1984) menawarkan ada lima hal yang dapat dilakukan, yaitu: (1) mengenal diri sendiri dengan Strength, Weaknesess, Opportunities, Threats (SWOT), (2) berusaha memiliki Kredibilitas, Akseptabilitas, Moralitas, dan Integritas (KAMI), (3) mempelajari prinsip-prinsip kepemimpinan, (4) menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan, dan (5) belajar dari umpan balik. Jadi, punya ilmu harus dipraktikkan seperti nasehat Confius, seorang filosof kuno yang menyatakan, ”Inti pengetahuan ialah mempunyai dan menggunakannya.”

Secara obyektif, kehidupan madrasah akan selalu mengalami perubahan sejalan dengan dinamika pembangunan. Kepala madrasah sebagai pemimpin pendidikan harus berupaya mengembangkan pengeahuan dan keterampilannya dalam mengelola perubahan yang terjadi di madrasah. Melihat posisinya sebagai top leader, kepala madrasah efektif akan menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan pada tingkat madrasah.

Dengan melakukan studi terhadap kepemimpinan madrasah efektif kita dapat menggali informasi tentang nilai-nilai efektifitas harus dipelihara di madrasah. Sergiovanni (1987) menjelaskan kriteria madrasah efektif ke dalam hal-hal berikut:
1.       Skor tes UAN meningkat
2.       Kehadiran (guru, siswa, staf) meningkat
3.       Meningkatnya jumlah PR
4.       Meningkatnya waktu untuk penyampaian mata pelajaran
5.       Adanya partisipasi masyarakat dan orang tua
6.       Partisipasi siswa dalam ekstra kurikuler
7.       Penghargaan bagi siswa dan guru
8.       Kualitas dukungan layanan bagi siswa dengan kebutuhan khusus

Demikianlah, kriteria efektifitas madrasah tersebut akan berkembang sesuai dengan muatan nilai-nilai lokal madrasah, di samping mengikuti standar kinerja pada umumnya.

1. Pengertian Kepemimpinan Efektif
Mengingat tugas kepemimpinan yang kompleks, pengertian kepemimpinan tidak dapat dibatasi secara pasti, termasuk pengertian kepemimpinan efektif di madrasah. Namun, sejumlah rujukan menjelaskan bahwa kepemimpinan efektif di madrasah dapat berkait dengan kepemimpinan kepala madrasah di madrasah yang efektif. 

Atas dasar pandangan ini, maka kepemimpinan efektif di madrasah dapat dimengerti sebagai bentuk kepemimpinan yang menekankan kepada pencapaian prestasi akademik dan non akademik madrasah. Dengan demikian, pemimpin pendidikan efektif selalu berkonsentrasi untuk menggerakkan faktor-faktor potensial bagi ketercapaian tujuan madrasah.Sebagai pemimpin pendidikan pula, kepala madrasah efektif mampu menunjukkan kemampuannya mengembangkan potensi-potensi madrasah, guru, dan siswa untuk mencapai prestasi maksimal. 

Merujuk kepada model tersebut, dapat digambarkan bahwa seorang kepala madrasah efektif sebagai pemimpin pendidikan selayaknya harus mampu meningkatkan prestasi madrasah dengan menunjukkan kemampuannya dalam mengelola madrasah, guru, dan siswa sebagai komponen utama untuk mencapai tujuan madrasah. Pengelolan yang terkait dengan komponen madrasah dapat meliputi: (a) kurikulum praktis dan mantap; (b) tujuan yang menantang dan balikan yang efektif; (c) partisipasi orang tua dan masyarakat; (d) lingkungan yang tertib dan nyaman; dan (e) kolegialitas dan profesionalisme.

Sementara, pengelolan yang terkait dengan komponen guru dapat mencakup: (a) strategi instruksional; (b) manajemen kelas; dan (c) desain kurikulum. Adapun pengelolaan yang terakit dengan siswa mencakup: (a) lingkungan rumah; (b) kecerdasan belajar; dan (c) motivasi. Ketiga komponen tersebut bersifat interrelatif, oleh karenanya harus dikelola secara sinergis dengan mendasarkan kepada prinsip-prinsip koordinasi, sinkronisasi, dan integrasi.

Dari berbagai pandangan di atas, dapat ditegaskan bahwa kepemimpinan efektif adalah kepemimpinan kepala madrasah yang memfokus kepada pengembangan instruksional, organisasional, staf, layanan murid, serta hubungan dan komunikasi dengan masyarakat. Sajian materi ini akan mendeskripsikan kepemimpinan efektif kepala madrasah, ditinjau dari aktifitasnya dalam berkomunikasi, membangun teamwork, mengambil keputusan, menangani konflik, dan memelihara budaya kerja di madrasah.

2. Ciri-ciri Kepala Madrasah Efektif
Kepala madrasah efektif harus mengetahui mengetahui (a) mengapa pendidikan yang baik diperlukan di madrasah, (b) apa yang diperlukan untuk meningkatkan mutu madrasah, dan (c) bagaimana mengelola madrasah untuk mencapai prestasi terbaik. Kemampuan untuk menguasai jawaban atas ketiga pertanyaan ini akan dapat dijadikan standar kelayakan apakah seseorang dapat menjadi kepala sekola efektif atau tidak.

Secara umum, ciri dan perilaku kepala madrasah efektif dapat dilihat dari tiga hal pokok, yaitu: (a) kemampuannya berpegang kepada citra atau visi lembaga dalam menjalankan tugas; (b) menjadikan visi madrasah sebagai pedoman dalam mengelola dan memimpin madrasah; dan (c) memfokuskan aktifitasnya kepada pembelajaran dan kinerja guru di kelas (Greenfield, 1987; Manasse, 1985). Adapun secara lebih detil, deskripsi tentang kualitas dan perilaku kepala madrasah efektif dapat diambil dari pengalaman riset di madrasah-madrasah unggul dan sukses di negara maju.
Atas dasar hasil riset tersebut, dapat dijelaskan ciri-ciri sebagai berikut:

a.  Kepala madrasah efektif memiliki visi yang kuat tentang masa depan madrasahnya, dan ia mendorong semua staf untuk mewujudkan visi tersebut
b.  Kepala madrasah efektif memiliki harapan tinggi terhadap prestasi siswa dan kinerja staf
c.  Kepala madrasah efektif tekun mengamati para guru di kelas dan memberikan balik yang positif dan konstruktif dalam rangka memecahkan masalah dan memperbaiki pembelajaran
d. Kepala madrasah efektif mendorong pemanfaatan waktu secara efisien dan merancang langkah langkah untuk meminimalisasi kekacauan
e. Kepala madrasah efektif mampu memanfaatkan sumber-sumber material dan personil secara kreatif
f.  Kepala madrasah efektif memantau prestasi siswa secara individual dan kolektif dan memanfaatkan informasi untuk mengarahkan perencanaan instruksional.

Di sisi lain, kepala madrasah yang tidak efektif biasanya:
a. Membatasi perannya sebagai manajer madrasah dan anggaran
b. Menjaga dokumen, sangat disiplin
c. Berkomunikasi dengan setiap orang sehingga memboroskan waktu dan tenaga
d. Membiarkan guru mengajar di kelas
e. Memanfaatkan waktu hanya sedikit untuk urusan kurikulum dan pembelajaran
   (Martin & Millower, 1981; Willower & Kmetz, 1982).
 Kenyataan menunjukkan sedikit sekali kepala madrasah dipersiapkan sebagai pemimpin instruksional (Goodlad, 1983).

3. Indikator Kinerja Kepala Madrasah Efektif
Berdasarkan langkah-langkah reformatif dan analisis obyektif, maka dapat dikemukakan indikator-indikator kinerja kepala madrasah efektif di era global sebagai berikut:

1. Mewujudkan proses pembelajaran yang efektif, yang mencakup aktifitas-aktifitas:
a.      Menciptakan situasi kelas yang kondusif
b.     Menumbuhkan siswa (sikap) aktif, kreatif, kritis, dan memahami materi ajar
c.      Menumbuhkan rasa percaya diri dan saling menghargai sesama
d.     Memotivasi kemampuan siswa untuk menggunakan media pembelajaran
e.      Siswa memiliki sumber belajar

2. Menerapkan system evaluasi yang efektif dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan, dengan menyiapkan dan melaksanakan:
a.      Adanya jadwal evaluasi terprogram
b.     Alat evaluasi yang standard
c.      Analisa hasil evaluasi/belajar
d.     Pelaksanaan program perbaikan, pengayaan, dan penghargaan yang berkelanjutan.
e.      Penerapan tutor sebaya/Team Teaching
f.       Penulisan kisi-kisi, soal yang profesional

3. Melakukan refleksi diri ke arah pembentukan karakter kepemimpinan madrasah yang kuat, yang ditunjukkan dengan:
a.    Dapat memberi keteladanan
b.   Komitmen terhadap tugas
c.    Kebersamaan/kekompakan dalam melaksanakan tugas
d.   Implementasi Imtaq/amaliah

4. Melaksanakan pengembangan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi, melalui:
a.    Pemberian penghargaan dan sanksi yang tepat
b.   Pemberian tugas yang adil dan merata sesuai dengan kemampuan
c.    Memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas

5. Menumbuhkan sikap responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan, dengan:
a.      Senantiasa mengikuti perkembangan IPTEK dalam PBM (Sarana dan Metode)
b.     Membiasakan warga madrasah berkomunikasi dalam bahasa Inggris (Bahasa Asing)
c.      Membudayakan sikap selalu ingin maju
d.     Memperluas kerja sama dengan pihak luar dalam rangka otonomi madrasah
e.      Mengadopsi masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu di segala bidang

6. Menciptakan lingkungan madrasah yang aman dan tertib (Safe and Orderly), dengan:
a.    Memantapkan tata tertib yang tegas dan konsekuen
b.   Kerjasama yang baik antara madrasah, masyarakat sekitar dan aparat keamanan
c.    Menjadikan madrasah yang bebas dari rokok dan Narkoba
d.   Menciptakan rasa kekeluargaan yang tinggi di antara warga madrasah (5 S = Salam, Sapa, Sopan, Senyum, Silaturahim)
e.   Menciptakan nuansa madrasah yang aman, tenteram dan damai (Taman, Penghijauan, Musik, yang halus)

7. Menumbuhkan budaya mutu di lingkungan madrasah, dengan cara:
a. Memberikan reward kepada guru, siswa yang berprestasi
b. Memberdayakan MGMP tingkat madrasah
c. Mewajibkan warga madrasah untuk memberdayakan perpustakaan/sumber belajar lainnya
d. Peningkatan kualitas kehidupan beragama
e. Memiliki target mutu yang tinggi dan slogan /motto
f. Menanamkan rasa memiliki pada warga madrasah

8. Menumbuhkan harapan prestasi tinggi, dengan
a. Mengadakan lomba cepat dalam kegiatan class meeting
b. Membuat jadwal rutin Olah Raga prestasi
c. Mendorong siswa untuk mengikuti perlombaan-perlombaan
d. Memiliki komitmen dan motivasi yang kuat
e. Guru hams memiliki komitmen dan harapan tinggi terhadap siswa
f. Semua harus memiliki motivasi tinggi untuk berprestasi

9. Menumbuhkan kemauan untuk berubah, dengan:
a. Mengikutsertakan guru untuk menambah wawasan
b. Pemberian motivasi kerja yang tepat
c. Memberikan kesempatan untuk pengembangan/ peningkatan jenjang karir
e. Melakukan pembinaan

10. Melaksanakan Keterbukaan/Transparan Managemen Madrasah, dengan cara:
a. Membuat Program kerja, yang melibatkan semua warga madrasah
b. Sosialisasi Program kerja
c. Melaksanakan Program
d. Mengadakan Pembinaan secara kontinue
e. Membuat Laporan hasil pelaksanaan secara periodik
f. Mengadakan rapat Evaluasi secara periodik

11. Menetapkan secara jelas mewujudkan Visi dan Misi, dengan:
a. Memberdayakan seluruh komponen madrasah dalam menyusun Visi madrasah
b. Melibatkan semua komponen madrasah dalam menjabarkan Visi ke dalam indikator yang jelas
c. Menyusun Misi Realistis yang terdiri dari jangka pendek, menengah dan Panjang untuk mencapai Visi    
    dengan melibatkan semua komponen madrasah

12. Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif, dengan
a.   Memberdayakan disiplin guru dan karyawan
b.   Membudayakan pelayanan prima
c.   Meningkatkan profesionalisme guru dan karyawan melalui pelatihan-pelatihan atau lainnya
d.   Meningkatkan kesejahteraan guru dan karyawan
e.   Menciptakan iklim kerja yang kondusif dan kompetitif yang sehat dengan memberikan penghargaan dan        sanksi

13. Melaksanakan pengelolaan sumber belajar secara efektif, dengan:
a.    Menginfentarisir semua sumber-sumber belajar, di dalam dan di luar madrasah
b.   Menentukan sumber belajar yang   efektif sesuai kemampuan madrasah
c.    Pengadaan sumber-sumber belajar sesuai kemampuan
d.   Sosialisasi pemanfaatan semua sumber belajar
e.    Merencanakan pemanfaatan sumber belajar

14. Melaksanakan pengelolaan kegiatan kesiswaan/ Ekstrakurikuler secara efektif, dengan:
a.  Menginfentarisir sarana prasarana ekstrakurikuler
b.  Menginfentarisir minat dan bakat siswa
c.  Mencari peluang kerjasama dengan pihak lain
d.  Mencari peluang pengadaan dana dari donatur
e.  Menentukan jenis-jenis ekstrakurikuler

15. Mengembangkan kepemimpinan instruksional, dengan cara:
a.  Mendorong murid untuk bekerja keras mencapai standar prestasi nasional.
b. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program instruksional untuk memastikan bahwa kurikulum 
    dan pembelajaran efektif telah diterapkan, didukung dengan penggunaan strategi penilaian secara tepat.
c. Mengajak semua pihak terkait di madrasah melaksanakan pengambilan keputusan yang didasarkan 
    kepada visi, misi, dan prioritas program.
d. Memantapkan dan mempertahankan harapan berprestasi yang tinggi kepada murid secara rutin 
    dengan melakukan best practices dalam kepemimpinan, pembelajaran, dan perbaikan instruksional.
e. Bekerjasama dengan para guru dan staf dalam mengidentifikasi sumber-sumber dan materi sesuai 
    dengan kemampuan anggaran.
f.  Bekerjasama dengan guru dan staf dalam memperbaiki dan menetapkan kalender akademik.

4. Standar Kepemimpinan Efektif
Walau pengertian kepemimpinan efektif sulit didefinisikan secara tegas, secara umum dapat dirumuskan standar kepemimpinan kepala madrasah secara efektif. Pada dasarnya kepemimpinan efektif dapat dilihat dari tujuh perilaku kepala madrasah untuk: (a) menerapkan kepemimpinan madrasah efektif, (b) melaksanakan kepemimpinan instruksional, (c) memelihara iklim belajar yang berpusat pada siswa, (d) mengembangkan profesionalitas dan mengelola SDM, (e) melibatkan orang tua dan menjalin kemitraan dengan masyarakat, (f) mengelola madrasah secara efektif dan melaksanakan program harian, dan (g) melaksanakan hubungan interpersonal secara efektif.

Kepemimpinan di madrasah dapat mencakup serangkaian kegiatan kepala madrasah dalam memimpin institusi madrasah dengan cara membangun teamwork yang kuat, mengelola tugas dan orang secara bertanggungjawab, dan melibatkan sejumlah pihak terkait dalam pelaksanaan visi madrasah.

Untuk membangun tim, kepala madrasah dapat melakukannya dengan:
a.   Mendorong dan merespon masukan dari anggota tim
b.   Bekerjasama dengan staf dan murid memantapkan dan membangun tim di madrasah
c.   Membantu tim menyusun tujuan
d.   Memfokuskan tim kepada pencapaian tujuan yang spesifik dan terukur

Koordinasi dapat dilakukannya dengan menjalin kerjasama dengan instansi terkait, melibatkan guru, staf, orang tua, dan masyarakat secara tepat dalam pengambilan keputusan. Adapun implementasi visi madrasah dapat dilakukan dengan cara mengembangkan visi madrasah bersama stakeholders, mengarahkan pelaksanaan program sesuai dengan visi madrasah, dan mengkomunikasikan dan menunjukkan visi dalam rangka peningkatan mutu madrasah.

Kepemimpinan instruksional ditunjukkan kepala madrasah dalam berusaha mendorong kesuksesan semua murid dengan menciptakan program instruksional yang mendorong perbaikan proses belajar dan mengajar. Tiga hal penting yang menjadi perhatiannya berupa asesmen, kurikulum, dan pembelajaran.

Dalam asesmen, kepala madrasah (1) mengarahkan evaluasi belajar siswa dengan menggunakan beragam teknik dan sumber informasi; (2) menganalisis data siswa, staf, dan masyarakat untuk pengambilan keputusan; (3) memanfaatkan data madrasah dan siswa untuk membuat program layanan murid dan kurikulum; dan (4) memantau kemajuan belajar siswa, didukung dengan laporan sistematis tiap bulan.

Kepala madrasah juga menyiapkan tim untuk pengembangan kurikulum, menggunakan hasil penelitian, keahlian guru, dan rekomendasi kalangan profesional untuk membuat keputusan kurikuler, dan bekerjasama dengan staf untuk menyesuaikan pelaksanaannya dengan standar nasional.

Terkait dengan pembelajaran, kepala madrasah memperbaikinya dengan memantau semua kelas dan madrasah, mendorong penggunaan metode mengajar yang inovatif dan mendorong guru mencobakan program inovatif yang melibatkan murid, serta menyiapkan program untuk memenuhi kebutuhan pendidikan khusus dan kecakapan murid yang terbatas.

D. Ciri-Ciri Keberhasilan  Kepemimpinan Efektif Untuk Meraih Mutu
Untuk menerapkan MMT dalam suatu organisasi diperlukan adanya kepemimpinan yang ciri-cirinya berbeda dengan kepemimpinan yang tidak untuk meraih mutu. MMT diterapkan dalam organisasi yang melihat tugas organisasinya tidak sekedar melaksanakan tugas rutin, yang sama saja dari hari ke hari berikutnya. Semua sudah ditentukan standarnya, dan kalau kinerja sudah sesuai standar maka bereslah segalanya.

MMT juga mengenal standar kinerja, tetapi bedanya standar ini bersifat dinamis, artinya standar itu selalu bisa ditingkatkan. Sehingga memungkinkan terjadinya peningkatan mutu secara berkelanjutan. Untuk itu MMT memerlukan kepemimpinan yang mempu-nyai ciri-ciri yang agak khusus seperti yang akan dibahas berikut ini.

1. Fokus pada Kelompok.  
Kepemimpinan lebih diarahkan kepada kelompok-kelompok kerja yang memiliki tugas atau fungsi masing-masing, tidak memfokus kepada individu. Hal ini akan berakibat tumbuh berkembangnya kerjasama dalam kelompok-kelompok. Motivasi individu akan menjadi tugas semua orang dalam kelompok, jadi kelompok kerja menjadi sumber motivasi bagi setiap ang-gota dalam kelompok. Karena pimpinan selalu menilai kinerja kelompok, bukan individu, maka ma-sing-masing kelompok akan berusaha memacu kerjasama yang sebaik-baiknya, kalau perlu dengan menarik-narik teman sekelompoknya yang kurang benar kerjanya.

2. Melimpahkan wewenang untuk membuat keputusan.  
Kepemimpinan MMT tidak selalu membuat keputusan sendiri dalam segala hal, tetapi hanya melakukannya dalam hal-hal yang akan lebih baik kalau dia yang memutuskannya. Sisanya diserahkan wewenangnya kepada ke-lompok-kelompok yang ada di bawah pengawasannya. Hal ini dilakukan terutama untuk hal-hal yang menyangkut cara melaksanakan pekerjaan secara teknis. Orang-orang yang ada dalam kelompok-kelompok kerja yang sudah mendapatkan pelatihan dan sehari-hari melakukan pekerjaan itulah yang lebih tahu bagaimana melakukan pekerjaan dan karenanya menjadi lebih kompeten untuk membuat keputusan dari pada sang pimpinan.

3. Merangsang kreativitas.  
Setiap upaya meningkatkan mutu kinerja, apakah itu dalam mengha-silkan barang atau menghasilkan jasa,  pada dasarnya selalu diperlukan adanya perubahan cara kerja. Jadi kalu diinginkan adanya mutu yang lebih baik jangan takut menghadapi perubahan, se-bab tanpa perubahan tidak akan terjadi peningkatan mutu kinerja. Perubahan bisa diciptakan oleh pemimpin, tetapi tidak perlu harus selalu berasal dari pimpinan, sebab kemampuan pemim-pinpun terbatas.
Oleh karena itu pemimpin justru perlu merangsang timbulnya kreativitas di ka-langan orang-orang yang dipimpinnya guna menciptakan hal-hal baru yang sekiranya akan menghasilkan kinerja yang lebih bermutu. Seorang pemimpin tidak selayaknya memaksakan ide-ide lama yang sudah terbukti tidak dapat menghasilkan mutu kinerja seperti yang diharap-kan. Setiap ide baru yang dimaksudkan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bermutu dari manapun asalnya patut disambut baik. Orang-orang dalam organisasi harus dibuat tidak takut untuk  berkreasi, dan orang yang terbukti menghasilkan ide yang bagus harus diberi pengakuan dan penghargaan.

4. Memberi  semangat dan motivasi untuk berinisiatif dan berinovasi.   
Seorang pimpinan MMT selalu mendambakan pembaharuan, sebab dia tahu bahwa hanya dengan pembaharuan akan dapat dihasilkan mutu yang lebih baik. Oleh karena itu dia harus selalu mendorong semua orang dalam organisasinya untuk berani melakukan inovasi-inovasi, baik itu menyangkut cara kerja maupun barang dan jasa yang dihasilkan.

Tentu semua itu dilakukan melalui proses uji coba dan evaluasi secara ketat sebelum diadopsi secara luas dalam organisasi.  Sebaliknya seo-rang pimpinan tidak sepatutnya mempertahankan kebiasaan-kebiasaan kerja lama yang sudah terbukti tidak menghasilkan mutu seperti yang diharapkan olah organisasi maupun oleh para pe-langgannya.

5. Memikirkan program penyertaan bersama.  
MMT selalu mengupayakan adanya kerjasama dalam tim, kelompok, atau dalam unit-unit organisasi. Program-program mulai dari tahap peren-canaan sampai ke pelaksanaan dan evaluasinya dilaksanakan melalui kerjasama, dan bukan pro-gram sendiri-sendiri yang bersifat individual. Adanya sistem kerja yang didasari oleh kerjasama dalam tim, kelompok atau unit itu harus selalu menjadi pemikiran para pimpinan MMT.

Dasarnya adalah pengikut-sertaan semua orang dalam kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan ba-kat, minat dan kemampuan masing-masing orang. Orang adalah aset terpenting dalam organisasi dan karena itu setiap orang yang ada harus dimanfaatkan secara optimal bagi kepentingan penca-paian tujuan organisasi.

6. Bertindak proaktif.   
Pemimpin MMT selalu bertindak proaktif yang bersifat preventif dan an-tisipatif. Pemimpin MMT tidak hanya bertindak reaktif yang mulai mengambil tindakan bila su-dah terjadi  masalah. Pimpinan yang proaktif selalu bertindak untuk mencegah munculnya masa-lah dan kesulitan di masa yang  akan datang. Setiap rencana tindakan sudah difikirkan akibat dan konsekuensi yang bakal muncul, dan kemudian difikirkan bagaimana cara untuk mengeliminasi hal-hal yang bersifat negatif  atau sekurang  berusaha meminimalkannya.

Dengan demikian ke-hidupan organisasi selalu dalam pengendalian pimpinan dalam arti semua sudah dapat diper-hitungkan  sebelumnya, dan bukannya memungkinkan munculnya masalah-masalah secara me-ngejutkan dan menimbulkan kepanikan dalam organisasi. Tindakan yang reaktif biasanya sudah terlambat atau setidaknya sudah sempat menimbulkan kerugian atau akibat negatif lainnya.

7. Memperhatikan sumberdaya manusia.  
Sudah dikatakan sebelumnya bahwa orang adalah sumberdaya yang paling utama dan paling berharga dalam setiap organisasi. Oleh karena itu SDM harus selalu mendapat perhatian yang besar dari pimpinan MMT dalam arti selalu diupa-yakan untuk lebih diberdayakan agar kemampuan-kemampuannya selalu meningkat dari waktu ke waktu.

Dengan kemampuan yang meningkat itulah SDM itu dapat diharapkan  untuk mening-katkan mutu kinerjanya. Program-program pelatihan, pendidikan dan lain-lain kegiatan yang bersifat memberdayakan SDM harus dilembagakan dalam arti selalu direncanakan dan dilaksa-nakan bagi setiap orang secara bergiliran sesuai keperluan dan situasi.

8. Bicara tentang adanya persaingan ketat.  
Bila berbicara tentang mutu tentu akan terlintas adanya mutu yang tinggi dan mutu yang rendah. Bila dikatakan bahwa kinerja suatu organisasi  itu tinggi tentu karena dibandingkan dengan mutu organisasi lain yang kenyataannya lebih rendah. Artinya mutu tentang segala sesuatu itu sifatnya relatif, bukan absolut. Setidaknya begitulah pengertian mutu menurut MMT.

Pimpinan dalam MMT dianjurkan melakukan pem-bandingan dengan organisasi lain, membandingkan mutu organisasinya dengan mutu organisasi lain yang  sejenis. Kegiatan ini disebut benchmarking. Pimpinan MMT selalu berusaha menya-mai mutu kinerja organisasi lain dan kalau bisa bahkan berusaha melampaui mutu organisasi lain. Bila pimpinan berbicara tentang mutu organisasi lain dan kemudian ingin menyamai atau melebihi mutu organisasi lain itu, berarti pmpinan itu berbicara tentang persaingan.

Setiap organisasi berusaha mendapatkan pelanggan yang lebih banyak dan yang berciri lebih baik. Usaha ini hanya akan berhasil kalau organisasi itu mampu berkinerja yang mutunya lebih tinggi dari organisasi lain. Ini persaingan. MMT dikembangkan untuk memenangkan persaingan. Oleh karena itu pimpinan MMT selalu harus menyadari adanya persaingan dan berbicara tentang itu dengan orang-orang dalam organisasinya.

9. Membina karakter, budaya dan iklim organisasi.  
Karakter suatu organisasi tercermin dari pola sikap dan perilaku orang-orangnya. Sikap dan perilaku organsasi yang cenderung menim-bulkan rasa senang dan puas  pada fihak pelanggan-pelanggannya perlu dibina oleh pimpinan. Demikian pula budaya organisasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai tertentu yang relevan dengan mutu yang diinginkan oleh organisasi itu juga perlu dibina.

Misalnya dalam lembaga pendidikan perlu dikembangkan budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai belajar, kejujuran, kepelayanan, dan sebagainya. Nilai-nilai yang merupakan bagian dari budaya organisasi itu harus menjadi pedoman dalam bersikap dan berperilaku dalam organisasi. Namun demikian ka-rakter dan budaya organisasi itu hanya akan tumbuh dan berkembang bila iklim organisasi itu menunjang.

Olah karena itu pimpinan juga harus selalu membina iklim organisasinya agar kon-dusif bagi tumbuh dan berkembangnya karakter dan budaya organisasi tadi. Misalnya dengan menciptakan dan melaksanakan sistem penghargaan yang mendorong orang untuk bekerja dan berprestasi lebih baik. Atau pimpinan yang selalu berusaha berperilaku sedemikian rupa hingga dapat menjadi model yang selalu dicontoh oleh orang-orang lain.

10. Kepemimpinan yang tersebar.  
Pemimpin MMT tidak berusaha memusatkan kepemimpinan  pada dirinya, tetapi akan menyebarkan kepemimpinan itu  pada orang-orang lain, dan hanya me-nyisakan pada dirinya  yang memang harus dipegang oleh seorang pimpinan. Kepemimpinan yang dimaksudkan adalah pengambilan keputusan dan pengaruh pada orang lain. Pengambilan tentang kebijaksanaan organisasi tetap ditangan pimpinan-atas, dan lainnya yang bersifat operasional atau bersifat teknis disebarkan kepada orang-orang lain sesuai dengan kedudukan dan tugasnya.

Dalam banyak hal bahkan pengambilan keputusan itu diserahkan kepada tim atau kelompok kerja tertentu. Dengan demikian ketergantungan organisasi pada pimpinan akan sangat  kecil, tetapi sebagian besar dari orang-orang dalam organisasi itu memiliki kemandirian yang tinggi. Kondisi semacam ini tentu saja akan tercapai melalui penerapan MMT yang baik dan benar, dan setelah melalui proses pembinaan yang panjang.

Makin banyak dari kesepuluh ciri itu yang diterapkan oleh pimpinan MMT semakin baiklah mutu kepemimpinannya, dalam arti makin baiklah suasana kerja yang kondusif untuk terciptanya mutu, dan makin kuatlah dorongan yang diberikan kepada orang-orang dalam orga- nisasinya untuk meningkatkan mutu kinerjanya. Kesepuluh hal tersebut perlu dihayati dan di-praktekkan oleh semua pimpinan , dari yang tertinggi sampai yang terrendah, sehingga akhirnya akan menjelma menjadi pola tindak yang normatif dari semua unsur pimpinan.

E. Kesimpulan
Seorang pimpinan madrasah/ sekolah harus bisa membawa madrasahnya menuju sukses tentunya dengan jiwa kepemimpinan yang di milikinya menjadikan madrasahnya lebih bermutu. Untuk mencapai mutu pendidikan yang di inginkan, suatu madrasah tidak bisa di pegang oleh pemimpin-pemimpin yang tidak berkompeten. Keberhasilan pendidikan karena di pegang oleh pemimpin-pemimpin yang berkompeten dan tahu apa, kemana dan bagaimana madrasahnya kedepan inilah alasannya kepemimpinan yang efeektif sangat di butuhkan demi keberhasilan pendidikan bermutu.


 

Copyright © 2015 Artikel MIN 2 Model Palembang™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.