Penulis : R.A Mustika Hariyanti
Guru MIN 2 Palembang
Setiap bulan April seluruh warga Indonesia memperingati hari Kartini dan April 2011 yang akan dating merupakan perayaan mengenang perjuangan R.A Kartini yang ke-47 sejak R.A Kartini ditetapkan sebagai pahlawan pada 2 Mei 1964, sesuai dengan Keputusan Presiden No.108 tahun 1964. Kala itu bertepatan juga 60 tahun setelah wafatnya sang pendekar bangsa.
Ibu kita R.A Kartini wafat pada 13 november 1904, di usia yang sangat belia, usia yang masih sangat produktif usia dimana manusia masih penuh ambisi dan ide cemerlang usia 25 tahun setelah berjuang melahirkan anaknya dirembang Jawa Tengah “ semoga Allah membalas syahidnya seorang ibu “.
Ibu kita R.A Kartini wafat pada 13 november 1904, di usia yang sangat belia, usia yang masih sangat produktif usia dimana manusia masih penuh ambisi dan ide cemerlang usia 25 tahun setelah berjuang melahirkan anaknya dirembang Jawa Tengah “ semoga Allah membalas syahidnya seorang ibu “.
Raden Ajeng Kartini, putri sejati, putri yang mulia harum namanya dialah putri Indonesia, terlahir sebagai anak bangsawan pada 21 April 1879 di Jepara Jawa Tengah, Ia sangat patuh dengan orang tua termasuk bersedia dipingit agar beraktivitas di rumah saja. Hingga ia mengenyam pendidikan tingkat Sekolah Dasar, kala itu bernama E.L.S (Europese Lagere school) Kartini sangat memanfaatkan waktunya untuk menulis dan membaca, salah satu buku kegemarannya adalah buku karya Multatuli “ Max Havelaar “.
Sang pendekar kaum wanita ini dinikahi oleh seorang bupati Rembang bernama Raden Adipati Joyodiningrat. Walau seorang istri pejabat, Kartini tidak sombong dia terus mendukung suami dan terus rajin menulis mencurahkan isi hatinya sebagai penolakan terhadap penindasan kaum wanita kala itu melalui isi suratnya yang sarat dengan makna penyemangat bagi kaum wanita agar mandiri dan berjuang untuk lepas dari penindasan. Pada akhirnya kalimat-kalimat mutiara Kartini dibukukan dan diberi judul “ Door Duwistermis Tox Licht “ atau “ Habis Gelap Terbitlah Terang “.
Sekarang kegelapan dalam dunia wanita yang dikhawatirkan Kartini mulai pudar bergantilah dengan terang benderang jalan bagi wanita Indonesia terkhusus wanita Islam untuk memajukan diri. Misalnya lingkungan terkecil pada sebuah Madrasah Ibtidaiyah ( MI ) adalah salah satu jalan awal bagi tumbuh kembangnya cita-cita Kartini. Ada perbedaan yang mencolok antara Kartini belia yang dididik di Madrasah dengan diluar Madrasah atau Sekolah Islam lainnya, anak-anak perempuan yang bersekolah di Madrasah sejak kelas satu telah dibiasakan berjilbab untuk menutup aurat, mereka berpakaian panjang, rapi dan bersih yang terlihat anggun dan santun.
Murid Madrasah telah dibiasakan dengan mengucap salam bertegur sapa dengan ramah dan salim dengan menggunakan kedua belah tangan serta dibiasakan juga terhadap orang tua atau gurunya dicium sebagai tanda hormat, ini sangat berbeda dengan kebiasaan para siswa atu anak – anak pada umumnya diluar yang salim dengan meletakkan tangan gurunya ditempel dipipi atau dikening,yang seperti itu terlihat kurang santun. Ini dibiasakan oleh pemimpin Madrasah kami dengan maksud menciptakan kedekatan kejiwaan antara anak dengan guru atau orang tua.
Murid Madrasah telah dibiasakan dengan mengucap salam bertegur sapa dengan ramah dan salim dengan menggunakan kedua belah tangan serta dibiasakan juga terhadap orang tua atau gurunya dicium sebagai tanda hormat, ini sangat berbeda dengan kebiasaan para siswa atu anak – anak pada umumnya diluar yang salim dengan meletakkan tangan gurunya ditempel dipipi atau dikening,yang seperti itu terlihat kurang santun. Ini dibiasakan oleh pemimpin Madrasah kami dengan maksud menciptakan kedekatan kejiwaan antara anak dengan guru atau orang tua.
Dari hal yang ringan yang bersifat pembiasaan diajarkan di Madrasah hingga ilmu pengetahuan yang maju dan ilmu agama yang Kompleks diberikan dengan tekun dan sabar oleh para guru sesuai dengan tingkatan anak dan profesional guru. Madrasah di harapkan dapat mencetak generasi penerus cita-cita luhur Kartini yang berakhlakul karimah dan penuh dedikasi sesuai dengan kaidah yang diajarkan agama sehingga penerus Kartini tidak salah dalam melangkah.
Bagi kaum wanita dalam ia mengejar emansipasi dengan kaum laki-laki tidak melupakan kodratnya sebagai wanita yang soleha, dengan salah satu cirinya yang disebutkan dalam firman Allahsurat Al-ahzab ayat 59 yang artinya : “ Wahai nabi ! katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ( hingga ke dada ) yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang “.
Bagi kaum wanita dalam ia mengejar emansipasi dengan kaum laki-laki tidak melupakan kodratnya sebagai wanita yang soleha, dengan salah satu cirinya yang disebutkan dalam firman Allah
Dengan panduan dari Allah yang telah disebutkan diatas,madrasah merasa berkewajiban untuk selalu mengingatkan murid-murid bahwa menutup aurat atau berjilbab itu wajib,agar mereka menyenangi hal itu dibiasakanlah sedari kecil hingga nanti setelah selesai mereka menempuh pendidikan di Madrasah mereka menerapakan hal itu dan jadilah mereka kartini – kartini muda yang teduh wajahnya,menyenangkan dipandang,mulialah akhlaknya dalam balutan jilbab yang kaffah.
Dengan banyak keunggulan yang diberikan madrasah berubahlah cara pandang masyarakat dari menilai madrasah sebagai sekolah pinggiran dan pilihan terakhir karena dianggap tidak bermutu menjadi “The First Choice”atau pilihan pertama untuk menyekolahkan anak-anak mereka agar anak-anak mereka nantinya setelah mendapat ilmu dari madrasah dapat membanggakan mereka didunia dan menyelamatkan diakhirat.
Sebagai penutup dari uraian tentang Kartini,bahwa sebuah madrasah terutama Madrasah Ibtidaiyah sangat berperan penting menjalankan amanat-amanat R.A.Kartini dan pejuang wanita lainnya dalam memperbaiki nasib bangsa dari segi akhlak atau moral Sumber Daya Manusia serta menyempurnakannya sesuai dengan ajara Agama Allah,kelak berawal dari Madrasah akan munculnya kartini yang cerdas dan bangga dengan identitas keislamannya bukan kartini yang banyak mengumbar aurat.